Koperasi Vs Globalisasi

2 Nov

Dewasa ini, semua negara sudah berlomba-lomba untuk menaklukan pasar baik di negeri sendiri maupun di negeri orang lain. Karena sekarang merupakan Era Globalisasi, dimana batas-batas suatu Negara menjadi semakin sempit. Dalam Era ini antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain dalam berbagai bidang seperti, perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain.

Sebagian orang memandang proses globalisasi ini sebagai suatu proses social, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia menjadi semakin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Namun, ada juga segelincir orang yang melihat globalisasi ini sebagai proyek kapitalisme yang paling mutakhir yang diusung oleh Negara-negara adikuasa. Karena dengan adanya globalisasi, Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia. Sehingga, tidak sedikit yang menentang adanya globalisasi.

Dengan adanya proses globalisasi ini, tentunya juga akan mempengaruhi kegiatan ekonomi di Indonesia. Indonedia mau tidak mau harus ikut ambil bagian dalam proses globalisasi ini. Banyaknya instalansi luar yang masuk, seharusnya bukan menjadi hambatan untuk mengembangkan perekonomian dalam negeri. Jangan malah mengikuti arus yang datang dari luar negeri, justru kita harus bertahan bahkan menjadi Negara yang berpengaruh di dunia. Karena ini juga merupakan kesempatan kita untuk bersaing secara global.

Mengahadapi kondisi seperti ini, koperasi yang mejadi salah satu badan alternative berbisnis di Indonesia juga harus mempertahankan posisinya. Bahkan koperasi harus mampu bersaing dengan usaha lain. Karena akan ada banyak alternative-alternative berbisnis dari Negara luar yang masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, Ekonom Dawam Rahardjo mengatakan sekarang koperasi memerlukan arsitektur baru dalam berkonsolidasi. Koperasi di Indonesia diharapkan kembali mengembangkan bisnis ritel di dalam negeri seperti yang pernah dilakukan 10 tahun silam. Seperti koperasi di era Orde Baru, koperasi pada saat itu sudah mengembangkan bisnis ritel melalui pengembangan perkulakan Goro [PT Goro Batara Sakti dan PT Go-ro Yudhistira Utama] dan warung serba ada (waserda).

Namun, saat memasuki Era Reformasi, kegiatan pengembangan bisnis ritel yang dijalankan oleh koperasi tidak dapat dijalankan lagi. Dawam mengharapkan koperasi saat ini kembali mengembangkan bisnis ritel di dalam negeri terutama di daerah- daerah dengan melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah setempat, termasuk terlibat dalam revitalisasi pasar tradisional. “Paling tidak koperasi yang mengembangkan bisnis ritel minimal 20% dari total koperasi saat ini,” ujarnya. Selain itu, Dawam juga mengharapkan dihidupkannya kembali koperasi unit desa (KUD) sehingga koperasi pertanian dapat dikembangkan.

Sementara itu, Ketua Umum .Dewan Koperasi Indonesia Nurdin Halid mengatakan revisi undang-undang (UU) Nomor 25/ 2007 tentang Koperasi mendesak. “Revisi UU tersebut dimaksudkan agar koperasi bisa setara dengan perusahan swasta,” katanya kepada Bisnis, di sela- sela Hut ke 63 Koperasi yang diselenggarakan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), kemarin.

Dalam perencanaan tersebut dia mengakui kendala yang dihadapi koperasi saat ini adalah sumber daya manusia (SDM) yang minim. Dengan begitu, lanjutnya, koperasi belum memperoleh alokasi ekonomi yakni tegaknya sistem ekonomi nasional (sesuai dengan “Pasal 33 UUD 1945) adalah prasya-rat tumbuh-kembangnya gerakan koperasi Indonesia dan tata kelola koperasi seperti yang tercantum dalam TAP MPR No. 16/1998

Dari definisi di atas maka bisa dilihat bahwa bisnis ritel berkembang dari bisnis ritel skala kecil seperti warung rokok pinggir jalan, pengasong, penjual sayur gerobak dorong.

Skala menengah dalam bentuk mini market, convenience store, dan supermarket.

Dan skala besar: jaringan supermarket, department store sampai ke skala hypermarket dan superstore.

Jika sebuah pengecer memberikan harga lebih murah karena membeli banyak maka pengecer tersebut bukanlah menjalankan bisnis ritel melainkan bisnis grosir (wholesaler).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: