Love U More

20 May

Cast:

Cho Kyuhyun

Kim Rin Jin

Lee Hyuk Jae

Other cast

 

Happy reading🙂

Drrrt drrtt ddrrrt

Terdengar suara getaran ponsel yang berada tak jauh dariku. Ini masih jam 9 pagi dan aku masih terbaring di tempat tidur.

Pesan:

Rin Jin-ah, malam ini jam 7 ku tunggu di restoran biasa ya.

 

Pesan itu membangunkanku dengan sempurna. Aku segera membalas pesannya dan menari-nari gembira di atas kasur. Itu adalah pesan dari Kyuhyun, pacarku. Biasanya dia selalu menjemputku jika kita pergi berdua. Tapi kali ini dia tak bisa karena akhir-akhir ini dia disibukkan dengan kegiatan-kegiatan latihan. Ya, hari ini tepat tiga bulan pasca debutnya menjadi seorang artis. Karena terlalu senang, waktu sepuluh jam rasanya tak cukup bagiku untuk bersiap-siap.

 

Aku pun sampai lebih dahulu daripadanya. Tapi tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Aku berusaha menepisnya karena aku tidak ingin merusak suasana malam ini. Dan seorang namja dengan pakaian serba tertutup serta masker yang menutupi sebagian mukanya mengagetkanku.

 

“Siapa kamu?” Tanyaku sambil mengambil ancang-ancang untuk kabur.

 

Lalu dia melepas masker dan merapihkan penampilannya.

 

“Kyu?! Kaukah itu??” Teriakku senang.

 

Dengan segera aku mendaratkan pelukkan ke tubuh jangkungnya. Tapi agaknya dia menjaga jarak padaku. Perasaanku aneh itu muncul lagi, tapi aku cepat-cepat membuang pikiran-pikiran jelek itu dan melepaskan rinduku yang lama terpendam.

 

“Kyu, bagaimana kabarmu?” Tanyaku memulai pembicaraan.

 

Padahal dengan melihatnya saja aku sudah tahu bahwa dia hidup dengan baik. Tubuhnya yang terlihat gemuk dan wajahnya yang semakin tampan menandakan bahwa dia merawatnya dengan baik.

 

“Baik. Bagaimana denganmu?” Tanyanya kaku.

 

“Ah, aku tentu baik.” Jawabku masih mengembangkan senyumku.

 

Tapi jelas ini terasa aneh, mungkin karena kami sudah lama tidak betemu jadi semua kembali seperti awal saat kita baru pertama kenal. Atau memang ada hal lain yang akan terjadi.

 

Begitu lama tidak bertemu membuat aku ingin mengatakan banyak hal padanya. Aku benar-benar tidak bisa berhenti bercerita tentang kejadian-kejadian setelah dia memutuskan debut menjadi artis. Mulai dari kejadian di rumahku, sekolah, klub basketnya dan tentang teman-teman kami.

 

Sepanjang aku berbicara dia hanya mengangguk dan kadang-kadang tersenyum melihat tingkahku. Ini sangat aneh, dia tidak seperti ini sebelumnya.

 

“Kyu, apa kau baik-baik saja? Apa kau banyak tertekan disana? Atau kau kaget akan menjadi terkenal seperti sekarang?” Tanyaku sekenanya.

 

Meskipun di sekolah dia termasuk anak yang terkenal tapi nyatanya menjadi artis seperti sekarang ini bukan keinginannya, melainkan keinginanku.

 

“Tidak.” Jawanya spontan karena melihat perubahan pada wajahku.

 

“Lalu?” Aku menggantungkan pertanyaanku, berharap dia akan menjelaskan sesuatu.

 

“Rin Jin-ah, kau ingat bagaimana aku sampai bisa seperti sekarang ini?” Katanya sambil menuntunku untuk mengingat kejadian itu.

 

#Flashback

 

“Kyu, coba lihat!” Pintaku ke Kyu yang berjalan agak jauh di belakangku.

 

“Apa?” Tanyanya sambil melihat ke arah yang ku tunjuk tanpa mempercepat jalannya.

 

Aku menunjuk ke arah panggung yang memang disediakan untuk audisi suatu rumah produksi. Kami sedang berada di sebuah mall untuk sekedar jalan-jalan. Kami memang terbilang jarang jalan-jalan berdua seperti sekarang ini kecuali saat PSP kesayangan Kyu rusak atau ada peluncuran game terbaru. Dia memang maniak game, bahkan aku sebagai pacarnya masih berada di urutan ke-4 setelah PSP-nya itu.

 

“Lihat, ada audisi. Tapi sepertinya tidak ada yang bagus.” Rutukku sendiri.

 

Kyu menatap kosong panggung itu dan sama sekali tidak tertarik mengomentari para pesertanya. Tanpa menunggu persetujuannya ku tarik tangannya dan ku bawa dia ketempat dimana kami bisa mengambil formulir audisi. Meskipun agak kaget tapi dia tetap mengikuti langkahku tanpa berontak.

 

“Kau mau apa? Mau ikut audisi?” Ledeknya saat melihat formulir di tanganku.

 

“Iya.” Kataku dengan percaya diri.

 

“Lihat, badan kecil seperti ini bisa apa?” Katanya benar-benar meremehkanku.

 

“Bukan aku, tapi kau, Kyu!” Jawabku dengan senyum lebar.

 

“Apa?” Tanyanya tak percaya.

 

“Iya. Suaramu sangat bagus, Kyu. Kau pasti lolos.” Kataku tanpa mempedulikan dia yang masih shock.

Suara Kyu memang sangat bagus, tapi dia tidak pernah mau memperlihatkannya. Aku baru mengetahuinya saat dia menyatakan perasaannya padaku setahun yang lalu. Dia menyanyi begitu indah, sampai-sampai setelah kejadian itu banyak murid yang langsung menjadi fansnya. Para guru pun sempat memintanya untuk tampil di acara-acara sekolah, tapi dia tidak pernah menanggapinya. Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk mengembangkan bakatnya. Aku hanya ingin semua orang tahu dan mendengarkan suara merdunya.

 

“Tidak.” Jawabnya singkat.

 

“Tapi, ini kesempatan untuk mengembangkan bakatmu, Kyu.” Kataku mencoba merayunya.

 

“Aku bilang tidak!” Katanya dengan sedikit penekanan.

 

“Mereka pasti tidak bisa menolak namja bertalenta sepertimu.” Aku terus berusah meyainkannya.

 

Dia menatap tajam ke arahku dan aku hanya bisa membuang pandangan ke arah lain karena tatapannya begitu menakutkan.

 

“Sudah kuduga kau tak punya nyali.” Sindirku sambil mulai mengabaikannya.

 

Kyu bukan orang yang tahan dengan sindiran. Harga dirinya terlalu besar untuk mengabaikan sindiran-sindiran tentang dirinya. Dia juga tak pernah tahan jika diabaikankan. Meskipun dia selalu terlihat mengabaikan orang lain, tapi dia tidak pernah mau diabaikan. Ketika aku terdesak, aku sering menggunakan kedua cara ini untuk meluluhkannya. Dan seperti biasa, nampaknya kali ini pun aku berhasil.

 

“Aishh~ kau ini cerewet sekali. Baiklah, aku akan ikut. Tapi kau harus mengabulkan permintaanku!” Katanya sambil mengeluarkan evil smirk-nya.

 

“Apa?” Tanyaku hati-hati, karena aku tahu betul watak namja ini.

 

“Apa saja.” Katanya sambil sekali lagi mengembangkan senyum evil kebanggaannya.

 

“Hmm, baiklah. Tapi itu jika kau lolos.” Kataku tetap mempertimbangkan transaksi ini baik-baik.

 

“Deal?” Tanyanya sambil mengulurkan tangannya.

 

“Deal!” Kataku menjawab tantangannya.

 

#Flashback End

 

“Kau ingat, setelah aku lolos kau akan mengabulkan apa pun permintaanku?” Tanyanya sangat hati-hati.

 

“Ya, aku ingat.” Kataku takut-takut, tapi kali ini rasanya berbeda dengan saat itu.

 

“Kau tahu, sekarang kita sudah berbeda. Aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di sana. Tidak akan ada waktu untuk mengunjungimu, bahkan untuk mengunjungi keluargaku saja aku tidak tahu.” Dia mencoba menjelaskannya padaku.

 

“Ya, aku tahu. Karena itu, nanti mungkin aku yang akan sering mengunjungimu.” Kataku memotong pembicaraannya.

 

Entah mengapa aku tidak ingin dia meneruskannya, kalau bisa ku bantah rasanya aku ingin membantah semua perkataannya.

 

“Bukan itu masalahnya. Kami nanti mungkin akan pergi jauh dan akan kembali lama. Aku tidak yakin kita masih bisa berhubungan.” Kembali dia mencoba menjelaskan padaku.

 

“Tidak apa, aku akan menunggumu.” Sekali lagi aku memotong pembicaraannya.

 

“Tapi, manajer kami tidak mengizinan kami memiliki pasangan.” Katanya sedikit emosi.

 

Mendengar itu dadaku terasa sesak dan mataku mulai terasa panas. Aku mengalihkan pandanganku dan  berusaha mengendalikan emosiku.

 

“Kami akan berhubungan dengan banyak gadis dan saat ditanya kami akan bilang bahwa kami tidak mempunyai pacar” Jelasnya lagi.

 

“Aku tak akan apa-apa asal kau tidak memutuskan hubungan kita.” Kataku mencoba memahami keadaannya.

 

“Rin jin-ah, aku tidak ingin jika nanti kau sakit karena aku tidak mengakuimu, kau sakit karena melihatku dengan gadis lain. Terlebih aku tidak ingin kau menjadi bulan-bulanan penggemar kami nantinya.” Jelasnya panjang lebar.

 

“Karena itu, hari ini aku menemuimu. Aku bermaksud untuk mengakhiri hubungan kita.” Katanya perlahan sambil mengatur kata-kata dengan baik.

 

Pikiranku benar-benar kosong. Aku hanya memandangi wajahnya dan mencoba mengingatnya dengan baik. Dan air mata yang ku bendung, kini mengalir tanpa hambatan sama sekali.

 

“Jangan menangis!” Pintanya lembut.

 

Semakin dia memintaku untuk tidak menangis, semakin deras air mata yang mendesak turun. Cukup lama aku membiarkan air mata itu turun hingga tak bersisa. Dia pun hanya terdiam, sibuk membenahi perasaanya sendiri.

 

Kami memutuskan pulang tanpa menyentuh makanan yang kami pesan sebelumnya. Kyu mengantarku pulang dengan mobil yang dia bawa. Suasana di mobil pun tidak jauh berbeda, kami tidak bicara sepatah kata pun.

 

“Kyu, kau harus makan dengan baik. Menemanimu hingga lolos audisi pun aku sudah senang. Aku akan menjadi penggemarmu yang petama. Aku akan terus mendukungmu dan membeli semua albummu.” Kataku mencoba mencairkan suasana.

 

“Tidak. Kau harus hidup dengan baik. Makan dengan baik, tidur dengan baik dan mempunyai pasangan.” Katanya mengacak-acak rambutku sambil tetap berkonsentrasi menyetir.

 

Aku mencoba menerima kejadian ini. Paling tidak, kami mengakhirinya dengan cara yang baik.

–Setahun kemudian–

 

Hari ini hari libur, tapi aku bangun lebih pagi dan sudah siap untuk pergi.

 

“Pagi-pagi seperti ini kau mau kemana, Nak?” Tanya ibuku heran.

 

“Hari ini aku ingin mengahadiri fansigning Super Junior, Bu.” Jawabku sambil melahap beberapa roti bakar.

 

Ya, aku resmi menjadi penggemar mereka. Semua album, majalah, poster, serta barang lain yang berhubungan dengan mereka menjadi koleksiku saat ini, terutama tentang Kyu. Ya, di grup inilah Kyu bergabung. Menonton konser, teater dan variety show secara live serta mencari tahu berita tentang mereka sudah menjadi rutinitasku sehari-hari.

 

Ayah dan Ibu sudah komplain tentang kebiasaanku satu tahun belakangan ini. Terlebih mereka tahu itu ada hubungannya dengan Kyu yang sudah tidak lagi denganku. Kyu sangat dekat dengan Ayah  dan ibu. Mereka juga merindukan Kyu, tapi mereka sangat memaklumi keadaanya sekarang.

 

“Ibu, aku berangkat ya! Sampaikan salamku pada Ayah!” Kataku bergegas pergi.

 

Ini adalah pertama kalinya aku mengadiri fansigning. Aku tidak pernah berani menampakkan diriku di depan Kyu. Karena dari awal dia tidak menyetujui jika aku terus memikirkannya.

 

Aku pun siap dengan peralatan menyamarku. Aku menutup hampir seluruh tubuhku agar tak ada yang mengenaliku. Dengan penampilan seperti itu tak jarang orang-orang melirikku dengan tatapan aneh. Bahkan pihak keamanan sempat menggeledahku dan aku berhasil mengelabui mereka.

 

Sesampainya didepan pintu aku mengurungkan niatku untuk menghampirinya meminta tanda tangan. Aku mengambil beberapa fotonya secara sembunyi-sembunyi dan sisanya hanya bisa memandangi wajahnya dari luar.

 

Saat sedang memperhatikan Kyu, aku merasa seseorang menepuk pundakku.

 

“Oppa?? Kenapa kau disini?” Tanyaku kaget melihat Eunhyuk Oppa lah yang berada di belakangku.

 

“Aku memperhatikanmu dari dalam. Kenapa tidak masuk? Dan pakaianmu….” Tanya Eunhyuk oppa sambil melihatku dari atas sampai bawah.

 

“Aku sedang flu, bersin-bersin, aku hanya tidak ingin penyakitku menular pada kalian.” Jawabku sekenannya sambil sedikit bersin-bersin.

 

“Tidak apa. Masuklah!” Ajaknya

 

“Ah, tidak. Lihat, aku masih bisa mengambil gambar kalian dengan bagus dari sisi.” Kataku sambil menunjukkan beberapa foto yang tadi ku ambil.

 

“Ini terlalu jauh. Kau fans nya Kyu?” Tanyanya.

 

“Bagaimana oppa tahu?” Tanyaku agak kaget.

 

“Disini cuma ada fotonya, mana fotoku?” Jawab kesal.

 

Aku hanya bisa tersenyum. Benar saja, sejak tadi aku hanya mengambil gambar Kyu. Aku benar-benar tidak ada niat mengambil foto yang lain.

 

“Ayo, kita foto bersama!” Katanya sambil mengambil kamera ku dan mengabadikan foto kami berdua.

 

“Nah, bagus kan??” Tanyanya pada diri sendiri.

 

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Dan aku kembali memperhatikan Kyu yang sedang berinteraksi dengan fansnya.

 

Tiba-tiba aku melihat Eunhyuk oppa sudah berada di depan Kyu dengan membawa kamera ku. Aku segera bersembunyi di balik tembok berharap Kyu tidak melihatku. Kulihat Eunhyuk oppa mengambil beberapa foto Kyu dan member lain layaknya fotografer dan kembali melakukan fansigning.

 

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya acara fansigning selesai. Semua member meninggalkan ruangan kecuali Eunhyuk oppa. Dia menghampiriku terlebih dahulu.

 

“Ini. Lain kali kau juga harus mengambil fotoku dan yang lain, mengerti?” Katanya sambil mengembalikan kameranya padaku.

 

“Dan ini, tanda tangan Kyu.” Sambungnya.

 

“Oppa, terima kasih.” Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku.

 

“Jaga kesehatanmu!” Katanya sambil lalu pergi menyusul yang lain.

 

Sejak saat itu, Eunhyuk oppa selalu dapat menemukanku ditengah kerumunan para penggemar. Penyamaranku pun rasanya sia-sia jika bertemu dengannya.

***

 

Akhirnya showcase hari ini selesai. Seperti biasa, setelah acara selesai aku dan Eunhyuk oppa menyempatkan diri bertemu untuk sekedar ngobrol dan melihat foto-foto yang ku ambil saat acara berlangsung.

 

“Rin jin-ah, kau menunggu lama?” Tanya Eunhyuk oppa yang langsung duduk tepat didepanku.

 

“Ah, oppa sudah datang? Hebat sekali oppa bisa sampai sini dengan selamat.” Ejekku.

 

“Aku belajar banyak tentang penyamaran dari seseorang.” Balasnya sambil menatapku.

 

Aku hanya tersenyum malu. Dia segera melepaskan penyamarannya dan aku pun memesan beberapa menu untuk kami berdua. Akhir-akhir ini hubungan kami jadi semakin dekat. Kami pun tidak lagi canggung ketika harus bertemu berdua seperti ini.

 

“Oppa, kau terlihat lelah. Apa kau istirahat dengan baik?” Tanyaku saat melihat air mukanya yang memang terlihat capek.

 

“Ya, kami memang sedikit sibuk akhir-akhir ini.” Jawabnya singkat.

 

“Ah, kalian harus jaga kesehatan dengan baik!” Ucapku yang juga ku tujukan pada Kyu.

 

Meskipun dekat dengannya, tujuan utamaku menonton acara live mereka adalah untuk melihat Kyu. Biar bagaimana pun, aku baru akan merasa lega ketika melihat Kyu secara langsung.

 

“Rin Jin-ah, kenapa kau menyukai Kyu?” Tanyanya tiba-tiba.

 

“Tidak ada.” Jawabku sekenanya meskipun agak kaget.

 

“Kenapa kau tidak mau berhadapan langsung dengannya?” Lanjutnya sambil tetap menikmati makan malamnya.

 

“Aku terlalu jelek, jadi aku tidak ingin dia melihatku.” Jawabku asal.

Ini bukan pertama kalinya kami membahas ini dan aku selalu menjawabnya dengan alasan yang berbeda. Mungkin dia tahu aku berbohong.

 

“Kau menyukainya sebatas fans kan, tidak lebih?” Katanya sedikit ragu.

 

“Tentu saja, aku tidak mungkin berharap lebih.” Jawabku mengingat posisiku saat ini.

 

“Kalau begitu, jadilah kekasihku!” Dia menatapku dan menghentikan acara makannya.

 

Aku yang terkejut hampir saja mati tersedak. Aku segera mengambil segelas air dan mencoba mengalihkan pandanganku.

 

“Ah, oppa kau mengejutkanku.” Kataku sambil mengatur nafasku yang mendadak berantakan.

 

“Ini tidak lucu.” Kataku berharap dia hanya bercanda.

 

“Aku serius.” Katanya sambil tetap menatapku.

 

“Memang kalian boleh memiliki pasangan?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

“Tidak. Tapi asal kau mau menungguku aku akan menjagamu.” Katanya semakin membuatku bingung.

 

“Hari ini pun mereka tahu aku menemuimu.” Lanjutnya.

 

“Apa kau yakin?” Tanyaku.

 

Dia pun mengambil bunga dari vas yang ada di atas meja dan memberikannya padaku.

 

“Aku yakin. Maukah kau menjadi kekasihku?” Tanyanya sekali lagi.

 

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak bisa menolaknya, dia sangat baik padaku. Lagi pula dengan begini aku bisa selangkah lebih dekat dengan Kyu. Aku pun menerimanya dan kami pun jadi semakin sering bertemu.

***

 

Hari ini Eunhyuk oppa akan menjemputku di kampus. Hubungan kami sudah menginjak satu bulan. Entah sejak kapan aku mulai menyukai keberadaannya. Dia seperti membawa warna lain di hidupku.

 

“Kita mau kemana?” Tanyaku yang kini sudah berada di dalam mobilnya.

 

“Nanti juga kau tahu.” Jawabnya singkat.

 

Dia terus tersenyum sepanjang perjalanan. Dia membawaku ke sebuah butik ternama dan menyuruhku mencoba beberapa gaun. Dan akhirnya aku memakai gaun putih selutut dengan sedikit aksen di bagian pinggang. Dengan dipadu sepatu highheels putih dan sedikit  make up sederhana aku seperti tokoh Cinderalla dalam buku cerita yang pernah ku baca.

 

“Kenapa aku harus berdandan seperti ini?” Tanyaku yang sudah berada di mobil untuk melanjutkan perjalanan.

 

“Hari ini aku ada pesta, aku ingin kau menemaniku.” Jawabnya dari balik kemudi.

 

Aku mulai mengajukan banyak pertanyaan tapi dia hanya mengembangkan senyum dan mengurungkan niat untuk menjawab runtutan pertanyaanku sebelum sampai di tempat tujuan.

 

“Ayo, kita sudah sampai!” Ajaknya.

 

“Apa kau yakin mengajakku kesini?” Aku mulai risih karena selama ini hubungan kami tidak pernah di publikasikan.

 

“Tidak apa, ini acara tertutup kok. Lagi pula aku ingin memperkenalkanmu pada anggota yang lain.” Jawabnya panjang lebar.

 

Aku terdiam sesaat, mengetahui bahwa aku akan bertemu langsung dengan Kyu. Aku memang ingin bertemu dengannya, tapi tidak secepat ini. Bahkan Eunhyuk oppa belum mengetahui hubunganku dengan Kyu.

“Ada apa? Ayo masuk!” Ajaknya sekali lagi.

 

“Oppa, aku ingin ke toilet.” Kataku saat kami sudah berada di dalam.

 

“Baiklah, aku tunggu disana ya?” Jawabnya.

 

Aku segera masuk ke toilet. Sebenarnya aku tidak ingin ke toilet, aku hanya ingin menenangkan diri disana. Setelah cukup tenang, aku memutuskan keluar. Ternyata tamu undangan sudah memenuhi ruangan, aku tidak dapat menemukan Eunhyuk oppa.

 

Saat sedang mencari Eunhyuk oppa, aku berpapasan dengan Kyu.

 

“Rin jin!” Panggilnya sedikit tidak percaya.

 

“Ah, hai Kyu!” Sapaku mencoba bersikap wajar.

 

“Sedang apa kau disini?” Tanyanya.

 

“Kau sendiri sedang apa?” Aku lebih memilih membalikkan pertanyaannya, aku tidak pernah bisa berbohong di depannya.

 

“Ini acara peresmian café Yesung hyung, dia hyung-ku di Super Junior.” Jawabnya.

 

“Kau sendiri?” Lanjutnya.

 

“Aku bersama seseorang, tadi dia di sini.” Kataku sambil mengarahkan pandangan kesekeliling.

 

Tiba-tiba suasana menjadi aneh. Kami sama-sama diam dan aku tidak tahu harus bicara apa.

 

“Kau…” Katanya sambil memperhatikan pakaianku.

 

“Semakin gendut!” Lanjutnya sambil terkekeh.

 

“Apa? Coba lihat kau sendiri. Pakaian apa ini?” Balasku sambil menunjuk rumbai-rumbai di bajunya.

 

Sebenarnya tidak ada masalah dengan penampilannya. Meskipun ada rumbai-rumbai di lengan kanan dan kirinya, dia masih terlihat tampan.

 

“Kenapa? Mereka bilang ini bagus!” Sanggahnya.

 

“Hahaa, jadi sampai sekarang tidak ada yang berani memprotesmu?” Aku sedikit memaksakan tawaku.

 

“Sudah berapa tahun kau di dunia hiburan, hah? Mereka hanya ingin membuatmu senang!” Kataku asal.

 

“Benarkah?” Katanya menimbang-nimbang perkataanku.

 

“Mereka harus ku beri pelajaran!” Katanya meninggalkanku dengan muka merah.

 

Aku hanya terkekeh karena berhasil mengerjainya. Aku kemudian tersadar bahwa aku harus mencari Eunhyuk oppa dan kembali mengelilingi ruangan.

 

Acara pun segera dimulai. Kini pandangan semua tamu tertuju pada seseorang yang berbicara di depan. Aku rasa itu adalah ibu dari Yesung oppa. Aku memilih diam dan memperhatikan. Aku rasa Eunhyuk oppa sekarang sedang mempersiapkan diri untuk menyambut para tamu bersama anggota yang lain. Ku dengar mereka menjadi bintang tamu disini.

 

Akhirnya mereka naik ke panggung dan menyapa para tamu undangan dengan ramah. Ku lihat Eunhyuk oppa sibuk memperhatikan seluruh tamu yang datang. Sampai kami saling bertemu pandang, aku tersenyum dan mengacungkan kedua jempolku. Kemudian dia menghela nafas lega. Mungkinkah dia mencariku?

 

Suasana menjadi sedikit gaduh. Aku tidak mengerti ada apa sampai Kyu naik ke panggung dan mulai menyapa para tamu. Ternyata magnae sombong itu terlambat naik panggung. Ku lihat ada yang berbeda darinya. Ternyata dia mengganti bajunya yang tadi dengan setelan jas hitam dan dasi merah. Selama beberapa detik pandanganku teralih padanya. Dia terlihat semakin tampan.

 

Acara inti pun selesai, para undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Dengan cepat sambil tetap menyapa para tamu undangan Eunhyuk oppa datang menghampiriku.

 

“Kau kemana saja, hah? Aku hampir saja masuk toilet wanita karena kau tidak juga menemuiku.” Adunya

 

“Maaf. Tamu disini begitu banyak, aku kesulitan mencarimu.” Jawabku.

 

“Sudah. Ayo kita kesana! Mereka sudah menunggumu.” Katanya sambil menarik tanganku.

 

Sepanjang perjalanan aku hanya menunduk, menolak bertatap muka dengan para tamu yang disapanya. Aku sudah melihat anggota lain berkumpul dan kami semakin dekat dengan mereka. Sekarang semua perhatian telah tertuju pada Kyu.

 

“Hei Kyu, kenapa tadi kau terlambat?” Tanya Sungmin oppa yang berada di sebelahnya.

 

“Kau ganti baju ya? Rasanya tadi bukan baju ini yang kau pakai.” Kata Donghae heran.

 

“Ah, ini? Aku tidak nyaman dengan baju yang tadi, jadi aku menggantinya.” Jawab Kyu.

 

“Oia, kenapa kita dikumpulkan disini?” Sambungnya.

 

“Ah, itu aku yang menyuruh.” Kata Eunhyuk sambil menyebakkan gummy smile-nya.

 

Aku hanya mendukkan kepala dan mecoba bersembunyi dibaliknya.

 

“Ada apa, Hyuk?” Tanya Leeteuk oppa penasaran.

 

Dengan mengambil nafas panjang dia berkata, “Hari ini aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian.”

 

Semua terlihat bingung dan menatap satu sama lain. Kemudian dia menarikku agar sejajar dengannya.

 

“Dia, gadis yang ku ceritakan waktu itu. Sekarang dia adalah kekasihku.” Katanya sambil tersenyum senang.

 

Kepalaku masih tertunduk karena malu hingga dia menyenggol tanganku. Aku memberanikan diri menatap mereka dan menyapanya, “Annyeong haseo.”

 

Sejenak ku lihat Kyu terperangah melihatku, lebih kaget dari saat kami bertemu sebelumnya.

 

“Jadi gadis ini yang membuat kau semangat berlatih?” Tanya Sungmin oppa.

 

“Apa karena gadis ini kau jadi terus menanyakan kapan acaranya berakhir?” Tanya Leeteuk oppa.

 

“Kau juga jarang pulang bersama kami setelah selesai acara.” Tambah Ryeowook oppa.

 

“Jangan dengarkan mereka!” Katanya saat aku meliriknya. Sontak semua member tertawa. Wajahnya berubah merah, terlihat sangat lucu.

 

“Kyu, dia ini penggemarmu.” Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

“Kau tahu, tanda tangan dan foto yang ku ambil sebelum ini adalah untuknya.” Lanjutnya.

 

Kali ini giliran mukaku yang berubah merah. Aku tidak berani menatapnya.

 

“Ah, aku rasa dia memang menyukaiku.” Katanya yang kini berada di hadapanku.

 

“Bagaimana kalau kita ambil foto bersama?” Tanyanya yang sukses membulatkan mataku.

 

“Benar juga!” Sahut Eunhyuk oppa yang langsung mengeluarkan ponselnya.

 

“Tapi, kau tidak boleh macam-macam Kyu! Atau… kau tak akan selamat!” Ancam Eunhyuk oppa.

 

Kyu pun hanya tersenyum. Dia merangkulku dan sedikit membungkukkan badannya agar sejajar denganku. Kami pun berfoto dan aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetku saat itu.

 

Selesai memperkenalkanku eunhyuk membawaku ke arah taman sedang yang lain sibuk menyambut para tamu undangan.

 

“Kau disini sebentar ya, aku akan mengambil beberapa makanan.” Katanya lalu meninggalkanku sendiri.

 

Aku mengangguk dan memilih duduk di taman. Terus terang saja, aku masih shock dengan kejadian tadi. Ekspresi Kyu berbeda dengan saat aku bertemu sebelumnya.

 

“Rin jin-ah!” Panggil seorang namja dari belakangku.

 

“Kyu! Kenapa kau di luar?” Tanyaku saat menyadari bahwa itu dia adalah Kyu.

 

“Apa yang kau lakukan dengan Hyung-ku?” Tanyanya tiba-tiba.

 

“Maksudmu?” Tanyaku bingung.

 

“Tega sekali kau mempermainkan Hyung-ku!” Katanya dengan sedikit meninggikan nadanya.

 

“Kyu, apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.” Jelasku yang benar-benar tidak tahu maksudnya.

 

“Jangan pura-pura bodoh! Kau yang mengatur semua ini kan?” Kyu semakin memojokkanku.

 

Aku benar-benar kaget Kyu bisa berbicara seperti itu padaku. Sebelum ini, dia masih bisa menjaga kata-katanya di depanku. Bahkan aku tidak pernah berpikir dia akan melakukan ini.

 

“Kyu, apa kau berubah secepat ini? Kau sungguh keterlaluan!” Dengan cepat aku memutuskan pembicaraannya.

 

Rasanya air mataku tak bisa ku bendung lagi. Tanpa menunggu reaksinya, aku segera meninggalkan acara itu. Aku kemudian menangis sepanjang perjalanan pulang. Ku tinggalkan barang-barangku yang ada di mobil Eunhyuk oppa dan memilih taksi yang mengantarku pulang.

 

Ponselku terus berdering, aku rasa Eunhyuk oppa menyadari ketidakhadiranku. Ku putuskan untuk tidak menjawab telponnya. Setelah mengabaikan beberapa kali telpon darinya, aku menerima pesan darinya. Aku kembali mengurungkan niatku untuk membalas pesan yang datang berturut-turut itu dan kemudian kumatikan ponselku.

 

Aku tidak tahu akan sesakit ini mendengar dia berkata seperti itu. Hubungan kami yang dulu seakan tidak pernah membekas dalam ingatannya. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis setelah mengetahuinya.

***

 

Aku terbangun dengan kondisi yang buruk. Aku masih berharap tadi malam itu hanya mimpi, meskipun aku tahu itu bukan. Ayah dan Ibu tidak boleh tahu tentang ini. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Aku akan menganggap semua tidak pernah terjadi, walaupun rasanya tidak mungkin.

 

Aku kembali menyalakan ponsel yang sempat ku matikan tadi malam. Benar saja, dalam sekejap kotak pesanku telah dipenuhi pesan dari Eunhyuk oppa. Aku berniat memutuskan hubunganku dengannya, karena itu hanya akan mengulang kejadian tadi malam. Aku akan mencoba menjalani hariku seperti sebelum aku bertemu dengannya.

 

Hampir satu minggu aku mencoba untuk tidak memikirkan kejadian malam itu, sampai aku bertemu Eunhyuk oppa di depan kampusku.

 

“Rin jin-ah, kau baik-baik saja kan?” Sapanya padaku yang terlambat menyadari kehadirannya.

 

“Oppa, kenapa kau disini?” Tanyaku sedikit gugup.

 

“Kenapa? Kau tidak mengangkat telponku dan tidak membalas pesanku!” Jawabnya heran.

 

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya lagi.

 

“Tidak. Pulanglah, kau tidak boleh berada disini.” Kataku saat melihat banyak orang yang mulai mengenalinya.

 

“Kau benar!” Dia menarik tanganku dan memasukkanku ke dalam  mobilnya dan kemudian mengambil alih kemudi.

 

“Turunkan aku! Aku masih harus mengerjai banyak tugas!” Rengekku saat dia mulai menjalankan mobilnya.

 

“Tidak, sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi!” Katanya sambil tetap mengemudikan mobil.

 

“Sudah ku bilang kan aku tidak apa-apa!” Aku sedikit meninggikan suaraku.

 

Tiba-tiba dia membanting stir agar kami menepi dan menghentikan mobilnya. Jantungku hampir saja berhenti karena ulahnya.

 

“Lalu, kenapa kau pergi tanpa memberitahuku? Akhir-akhir ini pun ponselmu tak bisa dihubungi!” Sekarang pandangannya tertuju padaku.

 

“Itu… Ibuku… Dia menyuruhku untuk segera pulang.” Jawabku ragu.

 

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” Tanyanya lagi.

 

“Karena… itu acara Yesung oppa, dia kan hyung-mu.” Kataku mencoba menyangkal.

 

“Lalu ponselmu?” Lanjutnya.

 

Ahh, aku benar-benar tidak suka ini. Ketika aku berbohong, maka aku harus berbohong lagi untuk menutupi kebohonganku sebelumnya. Benar-benar menguras otak.

 

“Ponselku rusak.” Jawabku benar-benar merasa bersalah.

 

“Maaf.” Aku segera menundukkan kepalaku untuk meminta maaf padanya.

 

“Syukurlah kalau begitu. Aku pikir terjadi sesuatu denganmu.” Lanjutnya sambil menghela nafas lega.

 

“Aku sangat merindukanmu.” Katanya sambil memelukku.

 

“Aku juga.” Kataku hampir tak terdengar sambil membalas pelukannya.

 

Aku sangat menyesal telah membohonginya. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku juga merindukannya. Sebelumnya, hampir sepanjang waktuku ku habiskan dengannya. Setelah kejadian itu, rasanya hidupku terasa sangat berat. Hingga hari ini dia datang ke hadapanku, rasanya semua bebanku hilang dalam seketika.

 

“Hari ini aku akan mengosongkan jadwalku. Ayo kita jalan-jalan!” Tanpa menunggu jawabanku dia kembali menjalankan mobilnya.

 

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya kami sampai ke suatu tempat. Ternyata dia membawaku ke dormnya.

 

“Ayo, masuk. Aku harus minta izin ke manager dulu untuk tidak ikut latihan hari ini.” Katanya lalu membawaku masuk.

 

“Kau tunggu disini ya!” Pintanya.

 

Aku pun hanya bisa menurut dan duduk sambil menunggunya. Baru kali ini aku masuk ke dorm tempatnya tinggal. Tempat ini terlihat sangat bagus, aku rasa dia hidup dengan baik.

Belum selesai aku mengagumi ruangan yang kutempati, Kyu masuk dan menangkap kehadiranku.

 

“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan tatapan tajam.

 

“Kau masih mendekati hyung-ku?” Tanyanya lagi.

 

Aku hanya terdiam. Jika tutup telinga diizinkan, rasanya aku ingin melakukannya. Aku sedang tidak ingin berdebat saat ini. Kubiarkan dia mengeluarkan semuanya.

 

“Kuperingatkan, jika kau berpikir dengan mendekatinya hubungan kita bisa seperti dulu lagi, kau salah! Semua sudah berubah! Dan tidak seharusnya kau melibatkan orang yang tidak tahu apa-apa seperti dia!” Katanya masih dengan tatapan yang tajam.

 

Sontak aku terkejut, aku baru mengerti maksudnya. Aku baru menyadari, ternyata aku telah melibatkan Eunhyuk oppa yang tidak tahu apa-apa dalam hubunganku dengan Kyu. Tapi aku tidak peduli, karena sekarang dia lah yang berhasil memenangkan hatiku.

 

“Ya, kau benar. Awalnya aku pikir dengan berteman dengannya aku akan bisa lebih sering melihatmu dan bertemu denganmu. Bahkan aku berpikir dengan begitu hubungan kita bisa kembali seperti dulu lagi. Aku benar-benar bodoh!” Aku mulai membuka mulut.

 

Tapi, belum sempat aku melanjutkan kata-kataku seseorang dari arah lain ikut berbicara.

 

“Benarkah?” Katanya dengan suara yang sedikit bergetar karena marahnya.

 

Aku baru menyadari bahwa Eunhyuk oppa telah mendengarkan hampir semua percakapan kami.

“Benarkah itu?” Tanyanya lagi dengan nada sedikit lebih tinggi.

 

Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi aku jelas harus mengatakan yang sebenarnya.

 

“Ya, benar.” Kataku memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.

 

“Tapi aku mulai menyadari bahwa…”

 

“Keluar!” Katanya dengan segala penekanan.

 

“Aku..”

 

“Keluar!” Kali ini dia tidak bisa menahan amarahnya.

 

Air mataku jatuh seolah tak sanggup melihat kemarahannya akibat kebodohanku.

 

“Oppa, kau harus dengarkan penjelasanku dulu!” Aku terus mencoba menjelaskan tapi sama sekali tidak diusiknya.

 

Kyu kemudian mencoba membawaku keluar agar tidak terjadi hal yang lebih buruk.

 

“Kyu, dia harus mendengarkan penjelasanku dulu!” Kataku tak terima ditarik keluar.

 

“Kyu aku mohon!” Kataku pada Kyu.

 

Akhirnya aku berada di luar dan tak bisa lagi melihat sosok Eunhyuk oppa. Aku terjongkok karena kakiku kehilangan tenaganya untuk menopang tubuhku. Air mataku terus mengalir, aku pun tak punya tenaga untuk menahannya agar tidak keluar. Aku terus menyesali semua, meskipun aku tahu itu tak bisa merubah apa pun.

 

Setelah aku sedikit demi sedikit aku bisa menenangkan diriku sendiri. Aku kemudian bertekat untuk tidak pulang sebelum dia mau mendengarkan penjelasanku. Aku berdiri di samping pintu agar tidak mengganggu orang lewat dan menunggunya sampai dia keluar.

 

“Nona, sebaiknya kau pulang dulu, ini sudah larut malam.” Sapa seorang keamanan padaku.

 

“Aku akan pulang setelah Eunhyuk oppa mendengar penjelasanku.” Jawabku.

 

“Dia mungkin sekarang sudah tidur.” Katanya.

 

“Kalau begitu aku akan tetap disini.” Jelasku.

 

Dia sedikit kecewa dengan jawabanku, tapi aku tidak peduli, aku akan terus berada disini.

 

Entah berapa lama aku berdiri, tapi jelas kakiku mulai merasa tidak nyaman dengan posisi ini. Lambungku yang belum sempat terisi lagi sejak sarapan tadi pagi juga mulai mengganguku. Tapi aku akan menahannya sampai aku tak mampu menahannya lagi.

 

Hari sudah mulai terang, aku sendiri tidak percaya aku bisa melakukan sejauh ini. Yang jelas aku pasti akan segera bertemu dengannya. Beberapa fans pun mulai berdatangan untuk mengunjungi mereka. Tidak sedikit dari mereka yang memperhatikanku, mungkin aku memang terlihat sangat berantakan.

 

“Nona, apa kau tidak ingin istirahat? Makanlah dulu!” Kata seorang penjaga yang kemarin menyapaku.

 

“Tidak, terima kasih.” Jawabku dengan hampir mengeluarkan semua tenagaku.

 

“Tapi mukamu pucat, nona.” Tambahnya.

 

“Aku baik-baik saja.” Kataku sedikit mengembangkan senyumku.

 

Kemudian perhatianku teralihkan pada gerombolan laki-laki yang keluar dari gedung diiringi teriakan histeris para gadis. Mereka keluar. Aku melihat Eunhyuk oppa dibalik tudung jaket putihnya sedang memakai masker dan kacamata. Dia berada di tengah-tengah member lain serta para manager. Aku mencoba menghadangnya, tapi aku tak mampu melakukan apa-apa. Tubuhku benar-benar tak bisa digerakkan. Tiba-tibatubuhku seperti melayang dan semua berubah menjadi hitam.

***

 

Aku terbangun dari tidurku. Aku tidak tahu kenapa aku malah tertidur di ruangan serba putih seperti ini. Kepalaku terasa pusing, tubuhku lemas, aku seperti tidak punya tenaga. Ku lihat jam menunjukkan jam sepuluh. Aku tidak seharusnya berada di sini. Aku benar-benar tidak ingin membiarkan masalah ini lebih lama lagi.

 

Tak ada seorang pun di sini. Aku memaksakan diri bangun dari tempat tidur ini. Aku rasa aku dibawa ke rumah sakit oleh seseorang. Entah siapa yang membawaku, aku sangat berterima kasih. Tapi saat ini aku harus menyelesaikan sesuatu.

 

Aku melepas infus yang terpasang di tanganku dengan paksa. Mencoba berdiri dengan dengan bersandar pada apa pun yang ada di sekitarku. Aku harus segera meninggalkan ruangan ini sebelum seseorang melihatnya. Aku mempercepat langkahku, meskipun nyatanya langkahku saat ini sama saja seperti langkah seekor kura-kura.

 

Kepalaku masih terasa berat, sangat sulit mengontrol langkahku saat ini. Nafasku hampir habis, padahal aku masih berada di depan ruanganku. Aku masih terus berjalan hingga seseorang menghentikan langkahku.

 

“Hei, bodoh!” Panggil seseorang.

 

Aku mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Ternyata Eunhyuk oppa berada di depanku dengan pakaian yang masih sama dengan saat kulihat pagi tadi.

 

“Dengan kondisi seperti itu kau masih ingin pergi?” Lanjutnya.

 

“Oppa!” Bisikku.

 

Ku hamburkan langkahku agar tak ada ruang untuknya untuk lari. Tapi ternyata aku tak cukup kuat menopang tubuhku yang langsung ditangkap olehnya. Aku kemudian melingkarkan tanganku ke pinggangnya, berharap dia tidak pergi.

“Oppa, kumohon jangan pergi! Kau harus mendengarkan penjelasanku!” Kataku sambil tetap memeluknya,

 

Aku tidak tahu bagaimana reaksinya, tapi aku terus memohon padanya.

 

“Aku tidak akan pergi.” Jawabnya lembut, kemudian membalas pelukkanku.

 

Aku tersenyum lega, kemudian kehilangan keseimbangan dan semua kembali gelap.

 

–beberapa jam kemudian–

 

Aku kembali terbangun dari tidur panjangku. Tapi kali ini kepalaku sedikit lebih baik. Aku rasa karena aku tidur cukup lama, karena jam dinding menunjukkan angka tujuh. Kulihat tanganku kembali diinfus dan seseorang tertidur pulas di kursi sebelah tempat tidurku. Wajahnya sangat manis.

 

“Kau pasti lelah.” Kataku padanya.

 

Dia menggeliat dan terbangun dari tidurnya.

 

“Kau sudah sadar?” Tanyanya padaku yang memperhatikannya dari tadi.

 

“Kau benar-benar membuatku khawatir.” Katanya setelah memastikan aku benar-benar sadar.

 

“Maaf.” Kataku menyesal.

 

“Tidak. Sebelum kau sembuh dan keluar dari ruangan ini! Mengerti?” Jawabnya mengancamku.

 

Aku hanya tersenyum hampa melihatnya kembali bersikap seperti dulu. Ini membuat keadaan semakin membaik.

 

“Tunggu sebentar, aku akan menghubungi anggota yang lain. Mereka bilang, mereka ingin menjengukmu.” Kemudian dia mengambil ponselnya dan berdiri untuk meninggalkanku.

 

Belum sempat dia berdiri aku  langsung  menarik tangannya agar dia tetap tinggal. Aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk menyelasaikannya. Walau bagaimana pun tujuanku bertemu dengannya adalah untuk ini.

 

“Maafkan aku, karena melibatkanmu dalam hubunganku dengannya. Tapi, aku bersumpah bahwa aku tidak bermaksud menyakitimu.” Kataku mencoba menjelaskan semuanya tanpa berani menatapnya.

 

“Aku tidak tahu sejak kapan, aku selalu menunggu-nunggu pertemuan denganmu. Saat kau tak ada, entah kenapa otakku selalu mencoba memikirkanmu.” Kataku masih belum menatapnya.

 

Mungkin kali ini wajahku sudah berubah menjadi merah karena sangat malu. Aku sedikit menundukkan kapalaku agar tidak terlihat.

 

“Aku tidak peduli bagaimana dulu kau melihatku. Tapi yang ku tahu sekarang kau hanya akan memikirkanku.” Jawabnya.

 

Dia benar-benar membuat semua menjadi mudah bagiku. Kami pun saling bertukar pandang. Senyumnya terlihat sangat tulus.

 

“Aku tahu, mungkin aku bukan fansmu yang pertama. Tapi, aku berjanji akan menjadi fans terakhirmu.” Kataku meyakinkannya.

 

Kemudian dia mendekatkan wajahnya pada wajahku.

 

“Benarkah?” Dia mempertanyakan keseriusanku.

 

“Emm.” Kataku sambil menganggukkan kapalaku cepat.

 

Tapi, jarak kami semakin lama semakin dekat. Aku menjadi salah tingkah. Jantungku berdetak semakin kencang. Aku mencoba menenangkan diriku, tapi tidak bisa. Segera ku pejamkan mataku kencang-kencang agar tak ada kesempatan untuk melihat apa pun. Meskipun tak bisa melihat, tapi aku bisa merasakan bahwa wajahnya semakin dekat.

Ku tahan nafasku agar lebih tenang. Tapi tiba-tiba…

 

“Hyung! Aku datang!“ Teriak seorang namja dengan semangat.

 

Aku segera membuka mata agar dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ku lihat Kyu memasuki ruangan kami. Aku dan Eunhyuk oppa kemudian mengalihkan pandangan kami dan bersikap seolah tidak sedang terjadi apa-apa.

 

“Ya! Kyu! Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?” Kata Eunhyuk oppa menyembunyikan rasa malunya.

 

“Kenapa aku harus mengetuk pintu? Ini kan bukan ruanganmu!” Jawab Kyu tak mau disalahkan.

 

“Ah, kau ini! Mana yang lain?” Eunhyuk oppa mengalihkan pembicaraan.

 

“Sepertinya mereka sedang dikejar-kejar para fans.” Jawab Kyu tak peduli.

 

“Oia Hyung, Dokter bilang dia ingin bertemu denganmu.” Lanjunya.

 

“Baiklah. Rin jin, kau istirahatlah. Aku temui dokter dulu.” Kata Eunhyuk oppa sambil mengusap kepalaku.

 

“Kyu, kau temani dia di sini!” Pintahnya.

 

Kyu mengangguk setuju dan Eunhyuk oppa pun keluar meninggalkan kami. Kyu kemudian duduk di sampingku tempat Eunhyuk oppa duduk.

 

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Kyu membuka pembicaraan.

 

“Tak pernah sebaik ini, Kyu. Bagaimana denganmu?” Kataku yang sudah lama tidak bicara seperti ini dengannya.

 

“Kau memang tak pernah berubah. Selalu melakukan hal bodoh!” Katanya tiba-tiba sambil tetap menatapku.

 

“Hah?” Dia membuatku kaget dengan kata-katanya.

 

“Apa kau tahu akibat dari perbuatan bodohmu itu?” Tanyanya.

 

Aku hanya diam dan membiarkan dia melanjutkan kata-katanya.

 

“Akibat perbuatan bodohmu mendaftarkanku audisi, kau menjauhkanku denganmu. Lalu kau datang lagi ke hadapanku, membuat aku ingin kembali padamu. Tapi kau mengumumkan hubunganmu dengan hyung-ku yang membuatku ingin menyakitimu. Lalu sekarang, kau membuat aku benar-benar tak punya kesempatan untuk berada di sisimu.” Jelasnya dengan tetap menatapku dalam.

 

Mataku terbelalak, tak percaya dengan apa yang keluar dari bibirnya. Apa mungkin dia masih mencintaiku? Lalu kenapa dia bersikap begitu? Aku masih tidak menanggapi perkataannya. Aku memutuskan untuk mendengar kelanjutannya.

 

“Ah, aku sangat iri dengan orang itu.” Dia mengalihkan pandangannya dan tersenyum getir.

 

“Meskipun dia tahu kau akan tersakiti jika terus bersama dengannya, tapi dia lebih memilih melindungimu dari dekat. Sedang aku, aku justru memilih untuk pergi dan memperhatikanmu dari jauh agar kau tidak tersakiti karenaku.” Katanya yang terdengar seperti penyesalan.

 

“Kyu?” Panggilku yang masih belum percaya dengan apa yang aku dengar.

 

“Rin jin-ah, jika dulu aku memintamu untuk menungguku, apa kau akan menungguku?” Dia kembali menatapku seolah meminta jawabanku.

 

Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Kenapa kau baru menanyakannya sekarang Kyu? Kenapa harus sekarang, setelah banyak hal terjadi?

 

“Entahlah, Kyu. Dalam menjalin sebuah hubungan harus ada rasa saling mempercayai. Satu orang saja tidak percaya, maka hubungan itu tidak akan bertahan lama.” Hanya itu yang bisa aku katakan.

 

Kami terdiam cukup lama, tenggelam pada pikiran kami masing-masing. Hingga seseorang membuka pintu dan menghamburkan lamunan kami.

 

“Rin jin-ah, Dokter bilang besok kau sudah boleh pulang.” Kata Eunhyuk oppa yang baru saja masuk ke ruangan.

 

“Jadi sekarang kau harus menghabiskan makananmu dan istirahat dengan baik.” Katanya yang kini sudah berdiri di sebelahku.

 

Aku hanya tersenyum dan menurut padanya.

“Hyung! Kau harus menjaganya dengan baik! Jika tidak, aku kan mengambilnya kembali darimu.” Kata Kyu tiba-tiba.

 

Sekali lagi Kyu membuatku kaget, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

 

“Tenang saja, itu tak akan pernah terjadi.” Eunhyuk oppa tersenyum  menatapku.

 

“Sebaiknya kau segera mencari pasangan, Kyu!” Kata Eunhyuk oppa yang kini menatapnya mencoba mencairkan suasana.

 

“Kau harus mendapatkan yang lebih baik dariku, Kyu!” Tambahku.

 

“Ya. Tapi tidak ada yang lebih baik darimu, sayang.” Eunhyuk oppa kembali menatapku.

 

“Ya! Berarti aku tidak akan mendapatkan pasangan, begitu?” Protes Kyu.

 

Sontak kami tertawa mendengarnya.

 

“Kalau begitu, Rin jin-ah! Ku tunggu jandamu!” Balas Kyu.

 

“Ya! Jadi kau mendoakan kematianku?” Jawab Eunhyuk oppa tidak terima.

 

Suasananya berubah sangat cepat. Mereka pun terus berdebat hebat, tapi tentu saja dengan suasana yang berbeda. Aku sangat senang berada di tengah mereka. Aku berjanji akan menjaga suasana ini sampai kapan pun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: