Pendakianku

20 May

Ini tentang pendakianku yang pertama kali ke Gunung Salak. Mungkin pendakian terlihat melelahkan dan menguras banyak uang, namun banyak sekali hal menarik yang ku alami dan sayang untuk ku simpan sendiri. Jadi aku bermaksud membagi pengalamanku saat mendaki gunung.

 

Saat itu aku sedang duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas di Tangerang Selatan. Aku mengikuti Ekskul Pecinta Alam di sana.Aku tertarik masuk ekskul tersebut karena kegiatannya menarik untuk diikuti. Untuk menjadi anggota tetap dan mendapat nomor anggota, kami harus melakukan pendakian terlebih dahulu. Dalam pendakian tersebut kami berlaku sebagai panitia sekaligus peserta. Sedangkan senior kami hanya mengawasi dan menilai kinerja kami.

 

Sebelum kami berangkat, kami harus merencanakan perjalanan kami agar semua berjalan dengan baik. Kami pun mempersiapkan konsep perjalanan agar selain mencapai puncak kami bisa belajar banyak di sana. Selain itu, kami juga harus mempersiapkan peralatan untuk pendakian. Saat mendaki, kami benar-benar berhadapan langsung dengan alam dalam waktu berhari-hari. Agar kami bisa bertahan, kami memerlukan bahan makanan, pakaian, tenda, kompas, peta dan barang-barang lain yang dapat mendukung pendakian kami. Kami juga harus mempersiapkan fisik kami agar tidak drop di tengah-tengah pendakian.

 

Semakin dekat, persiapan kami pun semakin matang. Kami pun berhasil mendapat izin dari pihak sekolah dengan catatan diluar dari jam sekolah. Karena itu kami memilih berangkat pada hari jumat setelah sekolah dan pulang pada hari minggu. Setelah selesai kegiatan sekolah, kami pun berangkat dengan ditemani dua orang guru sebagai pihak sekolah. Karena meskipun berada di luar sekolah, tapi kegiatan ini tetap menjadi tanggung jawab sekolah.

 

Kami pun memulai perjalanan kami dengan menyewa sebuah angkutan umum. Untuk sampai ke Gunung Salak, kami harus menaiki angkutan umum dua kali. Saat kami sampai di pertengahan dan harus mengganti angkutan kami, seorang  angkot menawarkan diri untuk mengantar kami. Kami pun menerimanya, dan orang itu kemudian pergi mengambil mobilnya. Tapi kemudian sebuah mobil angkot berhenti di depan kami. Tanpa banyak berpikir kami pun segera memasukkan barang-barang kami dan duduk di dalam untuk menuju ke puntu masuk Gunung Salak.

 

Saat mobil kami akan berangkat, supir tadi datang dengan mobilnya. Melihat kami sudah berada di dalam mobil, dia pun mulai mencaci supir kami. Dengan mengabaikan ocehan supir itu, mobil kami pun berjalan meninggalkannya. Saat perjalanan, aku benar-benar sangat asing dengan daerah yang ku lalui karena itu pertama kalinya bagiku. Tetapi tiba-tiba mobil kami berhenti di depan sebuah rumah dan supir kami pun masuk ke rumah itu. Setelah beberapa saat, supir kami keluar dengan sebuah golok di tangannya. Dia juga membawa seorang temannya untuk ikut ke dalam mobil. Aku yang kaget dengan apa yang ku lihat kemudian mencoba bertanya pada seniorku. Namun dia memilih untuk tidak membahasnya.

 

Perjalanan kami pun berlanjut meskipun aku masih bingung dengan situasi saat itu. Karena tujuan kami adalah gunung, maka kami pun memasuki jalanan menanjak. Saat memasuki jalan menanjak tersebut, supir tadi ternyata menyusul kami dengan ojek. Dia menyuruh supir kami untuk turun dari mobil. Kemudian supir kami pun langsung turun menjawab tantangan supir tadi. Dia meninggalkan mobilnya begitu saja tanpa menghentikannya terlebih dahulu. Kami yang berada di dalam pun panic karena mobil bergerak turun tanpa kemudi. Guru kami yang duduk di depan pun tidak mencoba untuk menghentikan mobilnya, dengan panik mereka mencoba membuka pintu mobil dan berusaha keluar.

 

Tapi kemudian teman dari supir kami yang sengaja diajak itu segera mengambil alih kemudian sebelum mobil kami hilang kendali. Dia pun segera membawa mobilnya ke pinggir dan kami segera turun untuk melihat apa yang terjadi dengan kedua supir itu. Ternyata mereka berdua berkelahi dengan berbagai jurus, bahkan supir kami akhirnya menggunakan golok yang di bawanya. Posisi kami cukup jauh dari tempat mereka berkelahi. Aku mencoba bertanya kepada guru kami untuk menghentikannya, tapi guru kami tak berani ikut campur karena ini bukan lagi daerah kami. Akhirnya kami hanya bisa menonton sampai penduduk sekitar melerainya dan mengamankannya.

 

Perjalanan kami pun kembali dilanjutkan, namun karena tanjakannya terlalu terjal beberapa orang harus turun agar mobil kami tetap bisa berjalan. Setelah sampai di pintu masuk gunung, kami segera menuju masjid untuk sholat maghrib. Dengan berbekal senter kami bersiap untuk mencari tempat landai agar dapat mendirikan tenda dan beristirahat. Setelah tenda didirikan kami pun makan malam dengan persediaan yang kami bawa. Kami pun tidak lupa melakukan evaluasi dan persiapan untuk perjalanan selanjunya sebelum pergi tidur.

 

Keesokan harinya, setelah sholat subuh dan sarapan, kami pergi ketempat lain untuk mengaplikasikan materi yang sudah kami pelajari. Yaitu mencari posisi kami pada peta. Namun karena langit saat itu berkabut, kami tidak bisa melakukannya dengan maksimal. Setelah selesai kami pun segera kembali ke perkemahan untuk packing dan melanjutkan perjalanan kami.

 

Perjalanan kami pun tak sepenuhnya mudah, kami juga menemukan yang mengharuskan kami memanjat. Untung sebelumnya sudah ada pendaki yang melewati jalan tersebut sehingga kami dapat menggunakan tali yang mereka pasang untuk memanjat dan melanjutkan perjalanan. Kami kembali membangun tenda kami untuk mempraktekkan materi selanjutnya. Kami kemudian pergi ke tempat lain untuk membuat bivak alami atau tenda alami dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar. Selagi yang lain membuat bivak aku diminta untuk membuat perapian. Tapi sekali lagi langit tidak mendukung karena hujan tiba-tiba turun dengan deras. Bivak yang sudah selesai dibuat hancur dan aku tidak berhasil membuat perapian.

 

Setelah hujan berhenti, kami pun kembali ke tenda dan bersih-bersih badan karena hujan tadi. Kami pun tidak menyia-nyiakan waktu ini, karena sejak kemarin kami belum sempat mandi da bersih-bersih. Setelah istirahat yang cukup, kami melanjutkan pendakian kami. Karena hujan, jalanan semakin licin dan berlumpur. Tapi kami harus berjalan dengan cepat karena hari semakin sore.

 

Sebelum kami naik ke puncak, kami kembali mendirikan tenda untuk menyimpan barang-barang kami. Karena jalan menuju puncak terlalu terjal, kami bermaksud untuk membawa barang-barang penting saja. Setelah menyiapkan perlengkapan, kami, para junior pun segera menuju puncak, sedang beberapa senior menjaga perkemahan beserta barang-barang lainnya.

 

Perjalanan ke puncak memang semakin terjal. Karena waktunya tidak begitu banyak, perjalanan kami ke puncak sedikit dipercepat. Meskipun dipercepat tapi tidak mengurangi pelajaran yang kami dapatkan. Kami mempelajari tumbuh-tumbuhan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Tidak jarang kami menemukan binatang-binatang aneh.

 

Setelah perjalanan yang melelahkan kami akhirnya sampai puncak. Di sana sudah ada beberapa pendaki lain yang sedang menikmati pemandangan. Pemandangannya hampir sama dengan jalanan yang kami lewati tadi, banyak pepohonan dan sangat tinggi. Kami pun sholat ashar, lalu beristirahat dan makan untuk sekedar mengisi tenaga. Kami juga tidak lupa mengabadikan moment ini dengan foto.

 

Setelah merasa cukup, kami segera turun sebelum langit berubah gelap. Saat turun gunung kami diajak berlari, karena itu akan semakin cepat dan mudah. Tapi saat ditengah jalan hujan kembali turun. Kami tetap melanjutkan perjalanan agar bisa sampai tenda sebelum gelap. Karena saat jalan gelap, semua akan semakin sulit. Jalanan menjadi licin, tak jarang membuatku terjatuh. Meskipun begitu aku harus tetap berlari hingga kami sampai tenda.

 

Setelah sampai tenda, hujan sudah berhenti. Kami pun kembali membersihkan diri lalu istirahat untuk sholat dan makan. Setelah semua selesai, kami kembali mengevaluasi kegiatan kami seperti biasa. Setelah itu, kami pergi tidur agar besok bisa kembali menlanjutkan perjalanan untuk pulang.

 

Saat pagi datang kami sholat dan sarapan seperti biasa. Selesai sarapan kami segera membereskan barang-barang kami untuk segera turun gunung. Ini adalah hari terakhir kami di gunung. Saat kami sedang membereskan barang-barang kami, salah satu senior kami berlarian ke dalam perkemahan. Ternyata dia sedang dikejar-kejar tawon.

 

Belum sempat kami pergi, sekelompok tawon yang menyerangnya ikut menyerang kami yang juga berlarian karena kaget. Masing-masing dari kami sibuk menghalau tawon-tawon itu. Untungnya hampir seluruh badanku tertutup, jadi tak ada satu pun tawon yang berhasil menyengatku. Satu persatu dari kami akhirnya pergi ke warung yang ada tidak jauh dari perkemahan kami. Sambil bersembunyi kami membeli beberapa makanan dan ngobrol-ngobrol di sana.

 

Kami semua bersembunyi cukup lama hingga tawon-tawon itu benar-benar pergi. Setelah memastikan mereka tidak ada, kami kembali packing untuk kemudia turun gunung dan pulang. Saat turun gunung kami melewati kawah belerang dan berbagai tempat menarik lainnya. Setelah sampai di bawah kami kembali menyewa mobil angkot untuk kembali ke sekolah.

 

Saat di sekolah, kami kembali melakukan evaluasi. Saat semua berkumpul untuk melakukan evaluasi ternyata hampir semua orang mengalami pembengkakan di badannya karena peristiwa tawon tadi. Meskipun badan kami bengkak dan capek pada akhirnya, tapi kami merasa puas dengan perjalanan kami. Aku yakin perjalanan ini tak akan bisa dilupakan. Perjalanan ini terlalu berharga untuk dilupakan bukan?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: