Why I Like U (Sequel “Love U More”)

28 Jun

Cast:

Cho Kyuhyun

Kim Rin Jin

Lee Hyuk Jae

Other cast

 

Kyu POV

Hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku rasa, hari ini kami hanya akan fokus latihan untuk persiapan konser di Osaka. Besok kami sudah harus berangkat dengan penerbangan pagi. Jadi, mungkin hari ini aku akan diam di dorm.

Setelah mandi dan rapih, aku segera bergabung dengan yang lain di lantai bawah. Ku lihat semua sudah berkumpul dan menikmati sarapan buatan Leeteuk hyung. Akhir-akhir ini dia jadi sering memanjakan kami dengan masakannya. Alhasil, berat badanku jadi sedikit bertambah.

“Kyu! Kau sudah bangun? Ayo gabung!” Ajak Leeteuk hyung saat menyadari kedatanganku.

“Kalian bangun pagi sekali.” Kataku sambil ikut bergabung dengan mereka.

“Hei, Kyu! Sore ini kau tidak kemana-mana kan?” Tanya Eunhyuk hyung yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.

“Emm, kenapa hyung?” Tanyaku sambil tetap mengunyah makanan buatan Leeteuk hyung.

“Temani aku ke rumah Rin Jin ya!” Katanya dengan menunjukkan gummy smile-nya.

Ya, Rin Jin adalah yeoja chingu Eunhyuk hyung sekaligus mantanku. Hubungan mereka sudah berjalan sekitar enam bulan. Dan alasan kenapa hyung mengajakku kesana adalah karena dia tidak tahu alamatnya.

“Baiklah.” Kataku setuju. Lagipula aku sudah lama tidak bertemu omma dan appanya RinJin.

“Oke. Ahh, aku jadi grogi.” Katanya dengan muka memerah.

Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya, dia memang selalu seperti ini jika membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan wanita.

Setelah menyelesaikan latihan dan meminta izin, kami pun siap pergi ke rumah Rin Jin. Kami pergi tepat pada jam 5 sore. Dengan menempuh perjalanan sekitar  satu jam, kami pun sampai di rumah Rin Jin.

“Ahh, tunggu dulu! Bagaimana penampilanku?” Tanya Eunhyuk hyung saat aku bergerak untuk mengetuk pintu.

“Kau masih tetap jelek, hyung!” Mendengar pertanyaannya, sifat evilku langsung keluar.

“Baiklah, kau boleh ketuk pintu sekarang!” Pintanya, mengabaikan kata-kataku.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Aku mulai mengetuk pintu rumah yang sudah lama tak ku kunjungi. Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka.

“Kyuhyun-shi?” Teriak seorang wanita yang sangat ku kenal.

“Omma!” Teriakku sambil menghamburkan pelukkan ke arahnya.

“Kenapa kau baru datang?” Kata omma sambil meletakkan kedua tangannya di pipiku.

“Kau bersama temanmu?” Tanyanya saat menyadari kehadiran orang lain selain aku.

“Annyeong haseyo, Lee Hyukjae  imnida.” Eunhyuk hyung memperkenalkan dirinya.

Dia berbeda dengan sebelumnya, menjadi sedikit agak canggung. Ya, aku tahu betul apa yang dia rasakan saat ini karena sebelumnya aku juga pernah berada di posisi yang sama dengannya.

“Ah, Rin Jin  pernah bercerita tentangmu. Terima kasih kau telah menjaganya.” Kata omma sedikit menunduk berterima kasih.

Eunhyuk hyung pun membalasnya dengan muka yang sedikit memerah entah karena malu atau senangnya. Kami kemudian dipersilahkan masuk dan menunggu, karena Rin Jin masih dalam perjalanan pulang.

Kyuhyun POV end

***

Rin Jin POV

Aku sedang berada di café saat omma menyuruh appa dan aku untuk segera pulang. Omma bilang ada tamu istimewa yang datang. Meskipun tidak begitu mengerti apa yang omma bicarakan, kami pun segera berpamitan dengan yang lain untuk pulang lebih dulu.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, aku sudah sampai di rumah dan melihat sebuah mobil yang mirip dengan mobil Eunhyuk oppa terparkir di halaman depan. Saat masih terpaku dengan mobil tersebut, ku dengar appa berteriak gembira.

“Kyuhyun-shi!” Panggil appa yang baru saja masuk.

“Appa!” Panggil Kyu yang langsung menghampiri appa.

“Kyu? Oppa?” Kataku terkejut saat melihat mereka lah yang menjadi tamu istimewa omma.

“Sedang apa kalian disini?” Lanjutku.

“Kau ini! Kenapa kau tidak sopan begitu sih?” Tanya appa heran melihat perlakuanku kepada mereka.

“Kau bersama temanmu Kyuhyun-shi?” Lanjut appa.

“Bukan! Dia oppa-ku!” Kataku sambil merangkul tangannya.

“Apa?” Kata omma dan appa bersamaan.

“Annyeong haseyo, Lee Hyukjae imnida. Saya oppa-nya Rin Jin sekaligus hyung-nya Kyu.” Jawab Eunhyuk oppa dan tidak memberikanku kesempatan untuk menjelaskan hubungan kami.

“Ooh!” seru omma dan appa, lagi-lagi secara bersamaan.

“Yasudah, ngobrol-ngobrolnya kita lanjutkan di dalam saja sambil makan.” Ajak appa.

“Ahh, Kyuhyun-shi, bagaimana kabarmu?” Kata appa sambil merangkul Kyu masuk ke dalam.

“Oppa, mianhae.” Kataku pada Eunhyuk oppa yang masih berdiri di sampingku.

“Gwenchana. Tidak usah terburu-buru.” Katanya menenangkanku.

“Omma dan appa hanya punya aku. Aku rasa mereka sudah menganggap Kyu sebagai anaknya sendiri.” Aku mencoba menjelaskan.

Dia hanya tersenyum dan mengangguk seolah mengerti semuanya.

“Oppa, kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang?” Protesku.

“Aku hanya ingin bertemu sebelum berangkat ke Osaka.” Jawabnya.

“Apa? Kalian sudah mau berangkat?” Tanyaku tak percaya.

“Ahh, kenapa aku tidak tahu sama sekali.” Rutukku sambil memukul kepalaku sendiri.

“Yasudah, kita makan dulu.” Dia mengamankan kedua tanganku dan merangkulku agar aku tak bisa memukul lagi.

“Besok aku akan mengantar kalian, aku janji!” Kataku cepat.

Dia hanya mengangguk dan tersenyum tanpa pembantahan. Kami pun segera menyusul yang lain untuk makan bersama. Paling tidak malam ini aku bisa makan malam bersama mereka sebelum keberangkatannya.

__Esoknya__

Pagi ini aku sudah berada di Incheon Airport untuk mengantar Eunhyuk oppa berangkat ke Osaka. Aku hanya punya sedikit waktu untuk bertemu dengan Eunhyuk oppa.

“Oppa!” Teriakku saat melihatnya berjalan ke arahku.

“Sst, apa kau sedang memanggil semua orang huh?” Katanya sedikit berbisik dan menyembunyikan wajahnya yang jelas sudah tertutup.

Aku hanya terkekeh melihatnya begitu panik. Mengingat dia tak punya banyak waktu, aku segera menyodorkan boneka monyet yang sengaja ku beli.

“Untuk apa ini?” Tanyanya bingung.

“Apa kau tidak merindukanku nanti? Anggap saja itu aku.” Kataku.

“Kenapa harus monyet?” Tanyanya sambil menahan tawa.

“Bukankah monyet harus berpasangan dengan monyet juga?” Jawabku sekenanya.

Dia melepas tawanya setelah mendengar jawabanku. Dan dalam hitungan detik aku sudah berada di pelukannya.

“Aku akan merindukanmu.” Bisiknya.

“Aku juga akan sangat merindukanmu.” Jawabku sambil membalas pelukkannya.

Aku hampir saja tak mau melepaskan pelukkannya. Tapi aku sadar itu hanya akan membuatnya susah.

“Doakan kami!” Katanya sambil melepaskan pelukkannya

“Semoga sukses dan jaga kesehatan!” Ucapku sebelum dia pergi.

Kami akhirnya harus berpisah. Dan dia pun kembali bergabung dengan rombongannya.

Rin Jin POV end

***

Kyuhyun POV

Saat ini kami berada di Osaka dan semua member sudah pergi beristirahat setelah menikmati makan malam. Langkahku terhenti saat melihat Eunhyuk hyung yang masih berada di area kolam renang. Dia berbaring di salah satu kursi panjang dengan mata tertutup.

“Hyung, sedang apa kau di sini?” Tanyaku yang menyadari bahwa dia masih terjaga.

“Ahh, kau Kyu?” Katanya menyadari kehadiranku.

“Sejak kapan kau jadi imut seperti ini, hyung?” Ejekku sambil mengangkat boneka monyet yang dipegangnya.

“Hei, jangan sentuh Rin Jin ku!” Dengan cepat dia mengambil bonekanya kembali.

“Rin Jin?” Tanyaku tidak mengerti.

“Ya, dia memberikan ini sebelum berangkat tadi.” Katanya dengan mengembangkan senyumnya.

“Dia bilang jika aku merindukannya, anggap saja boneka ini adalah dia.” Lanjutnya.

Sudah kuduga RinJin datang ke bandara, tapi kenapa dia tidak menemuiku dan yang lain juga? Apa dia tidak ingin mengantar kami juga? Dasar sombong!

“Kyu, kenapa kau menyukainya?” Tanya Eunhyuk hyung membuyarkan lamunanku.

“Eh, apa?” Tanyaku.

“Rin Jin, kenapa kau menyukai dia?” Suasana tiba-tiba menjadi sedikit canggung.

“Dia, orang pertama yang mengalihkan perhatianku.” Jawabku jujur.

“Saat awal masuk SMA aku bukan orang yang cukup peduli dengan orang-orang disekitarku.” Lanjutku sambil mengembalikan ingatanku 3 tahun yang lalu.

­­­____Flashback on____

Seperti biasa aku bersembunyi untuk tidur di ruang kesenian saat jam pelajaran terakhir. Akhir-akhir ini jadwal tidurku berantakan karena game, aku tidak tidur seharian hanya untuk menyelesaikan gameku. Akhirnya, aku terpaksa mengambil jam pelajaran sekolah sebagai ganti jam tidurku.

Aku terbangun karena seseorang terus bermain piano dengan berantakan. Ternyata seorang yeoja sedang berlatih bermain piano.

“Permainan yang buruk!” Ejekku yang tak mungkin terdengar olehnya.

“Ah, cukup untuk hari ini. Omma pasti sedang mencariku.” Katanya pada dirinya sendiri.

Dia kemudian pamit dengan penjaga sekolah kami dengan riangnya. Aku rasa dia memang selalu latihan setelah jam sekolah berakhir.

Sudah seminggu ini permainannya menggangu tidur siangku dan permainannya sama sekali tidak mengalami peningkatan. Hari ini lebih baik aku istirahat di rumah saja, jadi kuputuskan untuk menyelesaikan kelasku dan pulang. Tapi tiba-tiba seseorang memanggilku.

“Kyu, tunggu sebentar!” Kata seorang yeoja saat aku hampir keluar gerbang.

“Hari ini kita harus menyelesaikan tugas kelompok!” Katanya saat sampai di depanku.

Ternyata dia yeoja yang selama ini mengganggu tidurku. Aku tidak tahu kalau dia satu kelas, bahkan satu kelompok denganku.

“Tidak bisa, aku harus jaga rumah hari ini.” Tolakku dan kemudian meninggalkannya.

“Yasudah, kita kerjakan di rumahmu saja.” Paksanya.

“Mwo? Apa kata orang nanti?” Kataku kaget.

“Kita bisa kerjakan di depan rumahmu.” Dia tetap bersikeras.

“Terserahmu saja!” Kataku pasrah, benar-benar tidak ingin berdebat dan kembali berjalan.

“Eh, bagaimana kalau di rumahku saja? Ada omma di sana, jadi kita tidak akan berbuat macam-macam.” Katanya sedikit panik.

Aku berhenti dan menatapnya tajam.

“Ah, baiklah di rumahmu saja.” Dia menarik kata-katanya dengan cepat.

Dia kemudian mengikutiku ke rumah untuk belajar kelompok. Aku jadi terpikir untuk mengerjainya sebagai balasan telah mengganggu tidurku selama seminggu ini. Aku membawanya berputar-putar sebelum akhirnya sampai di rumahku.

“Hei Kyu, apa kau selalu menempuh perjalanan sejauh ini untuk pergi ke sekolah?” Tanyanya saat sampai di rumahku.

“Tidak.” Jawabku singkat yang sukses membuatnya bingung.

“Tadi aku sengaja berputar-putar.” Lanjutku tanpa rasa bersalah.

“Apa?? Ahh, kau ini benar-benar!” Katanya tidak percaya sambil memukul-mukul kakinya yang aku yakin sangat pegal.

Aku hanya tersenyum sebagai tanda kemenangan karena berhasil membalaskan dendamku.

“Kau tunggu disini!” Kataku sambil masuk meninggalkannya di luar.

Aku kemudian masuk dan mengganti pakaianku. Tapi kemudian aku terhenti di depan PS-ku.

“Ahh, dia sudah mengusik tidurku selama seminggu, aku rasa memutari kompleks saja belum cukup untuk membalasnya.” Pikirku sambil tersenyum senang.

Aku pun segera menyalakan PS-ku dan langsung memainkannya.

“Sebentar saja kok.” Kataku pada diriku sendiri.

__ Satu jam kemudian __

Aku hampir saja menang sebelum seseorang dengan tiba-tiba membuka pintu kamarku.

“Hei, apa yang kau lakukan?” Teriakku padanya.

“Ya! Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah main PS di sini?” Teriaknya sedikit lebih tinggi dari teriakanku tadi.

“Ahh,  aku lupa ada kau disini.” Kataku sama sekali lupa dengan kehadiran yeoja itu.

“Sudah satu jam berlalu, kenapa kau tidak pulang saja?” Tanyaku yang kembali fokus pada permainanku.

“Aku tidak akan pulang sebelum tugas ini selesai.” Jawabnya masih merasa kesal.

“Ku akui memang banyak yeoja di sekolah yang menyukaimu, tapi kalau sikapmu seperti ini aku rasa tidak akan ada yang mau denganmu.” Dia tiba-tiba menyindirku.

“Baiklah, baiklah, kita kerjakan disini saja.” Kataku tanpa memperdulikan sindirannya.

Aku masih sibuk dengan PS-ku saat ia berkutik dengan tugas kelompok kami. Dia mengerjakannya sendiri tanpa meminta bantuanku. Sesekali aku melihatnya kebingungan sendiri, wajahnya benar-benar lucu. Aku sengaja tidak menawarkan bantuan padanya, aku ingin lihat seberapa lama dia bertahan.

“Bagaimana, kau bisa tidak?” Tanyaku sambil tetap memainkan gameku.

“Aku sedang mencobanya.” Jawabnya terlihat frustasi.

Bagaimana bisa dia bilang begitu, sudah hampir dua jam dia berkutik dengan soal-soal matematika itu. Tapi entah kenapa, aku sangat suka melihat wajahnya saat berusaha seperti itu. Sampai akhirnya dia menyelesaikannya.

“Selesai!” Teriaknya gembira.

“Coba sini aku lihat!” Dengan cepat aku mengambil hasil kerjaannya.

“Apa yang kau lakukan? Kau menciptakan rumus sendiri, huh?” Tanyaku tidak percaya dengan apa yang dia kerjakan selama dua jam tadi.

“Eh, salah kah?” Tanyanya tak percaya.

“Kau seharusnya pakai rumus yang ini!” Jelasku padanya.

Aku mulai mencoret-coret kertasnya dan menyelesaikan soalnya kurang dari 10 menit.

“Nah, ini hasilnya.” Aku mengakhiri penjelasanku.

“Kau bisa mengerjakannya?” Tanyanya heran.

“Tentu saja, ini masih soal mudah.” Kataku sedikit sombong.

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!” Teriaknya dengan kesal.

“Salah sendiri kau tidak bertanya padaku.” Kataku tak mau disalahkan.

“Aish, Kyu! Kau benar-benar membuatku frustasi.” Katanya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Aku hanya bisa tersenyum mengingat perlakuanku padanya hari ini. Aku pun segera menyelesaikan soal-soal tersebut dan membiarkan dia mencatatnya sambil sesekali bertanya apa yang tidak dia mengerti.

“Hei, kau lapar tidak?” Tanyaku padanya yang sedang sibuk mencatat.

“Tentu saja, kau sudah menguras seluruh tenagaku.” Jawabnya sambil tetap mencatat.

“Kau bisa masak?” Tanyaku lagi.

“Biasanya aku hanya membantu omma, aku tidak pernah memasak sendiri.” Jawabnya.

“Disini tidak ada makanan, tapi aku rasa ada bahan-bahan kalau kau mau memasak.” Lanjutku.

Setelah menyelesaikan semuanya, kami pun pergi ke dapur. Aku membantunya menyiapkan bahan-bahan masakan yang diperlukan.

“Omma dan appa mu kemana?” Tanyanya sambil mulai memasak.

“Appa sedang mengurusi anak didiknya yang sedang skripsi. Omma, dia sedang mempersiapkan les tambahan buat murid-muridnya.” Jawabku seadanya.

“Wah, pantas kau pintar! Omma dan appa mu semua pengajar.” Katanya mengambil kesimpulan sendiri.

“Kau sama saja dengan yang lain.” Kataku agak kecewa.

“Semua orang juga bilang begitu. Aku pintar karena orang tuaku. Padahal itu semua kan tergantung padaku.” Lanjutku.

“Dasar sombong! Kau harusnya bersyukur karena mereka mempunyai gen bagus untuk diturunkan padamu. Lagi pula kau seperti ini juga hasil didikan orang tuamu.” Jawabnya sedikit kesal.

“Ya, kau ada benarnya juga.” Aku mencoba mencerna perkataannya.

“Kau tahu bagaimana susahnya aku bermain musik karena tak ada satu pun dari orang tuaku yang memiliki gen itu.” Katanya dengan muka kecewa.

“Ya, kau memang pianis yang buruk!” Ejekku.

“Hei, bagaimana kau tahu aku bermain piano?” Dia menghentikan pekerjaannya sejenak.

“Kau selalu mengusik tidurku dengan permainan jelekmu.” Protesku.

“Oh, jadi selama ini kau tidak masuk jam pelajaran terakhir karena tertidur di ruang kesenian?” Katanya seolah mendapatkan jawaban yang sedang dicari-cari.

“Ya, jam tidurku berantakan akhir-akhir ini.” Aku mencoba memberikan alasan.

“Pasti karena game! Dasar maniak!” Tebaknya dengan tepat.

Aku hanya tersenyum pasrah mendengarnya. Dan tidak lama kemudian masakannya pun jadi.

“Selesai.” Teriaknya dengan gembira, sama seperti saat dia menyelesaikan soal tadi.

“Kau masak apa? Kenapa bentuknya menyedihkan seperti ini?” Ejekku saat melihat hasil masakannya.

“Kau ini, jangan suka mengejek masakan orang lain!” Sepertinya dia mulai terbiasa membentakku.

Meskipun bentuknya agak berantakan dan sedikit gosong, tapi wanginya cukup menggoda. Aku pun mencoba mencicipi masakan buatannya.

“Hmm, enak!” Kataku saat mencicipi masakannya.

“Tuh kan, jangan menilai dari penampilannya saja!” Katanya dengan sombong.

“Iya, iya.” Kataku menyerah.

“Tapi aku akan buktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri tanpa bayangan orang tuaku.” Kataku kembali ke topik semula.

“Ya, kau pasti bisa.” Dia mencoba memberikan semangat padaku.

Kami kemudian menghabiskan makanan dan membersihkan peralatan makan kami.

“Kyu, setelah ini kau harus mengantarku pulang!” Katanya saat sedang mencuci piring.

“Mwo? Kenapa aku harus mengantarmu?” Tanyaku heran.

“Tentu saja. Kau tadi membawaku berputar-putar, mana mungkin aku bisa ingat jalan berputar-putar itu.” Katanya seolah ingin balas dendam.

“Ahh, baiklah.” Kataku tak bisa menolak.

Aku pun mengantarnya dengan motor besar kesayanganku.

“Itu rumahku.” Tunjuknya pada rumah dengan pagar hijau yang terbuka lebar.

“Rumahmu berantakan sekali. Apa kau sedang pindahan?” Kataku saat melihat beberapa barangnya diletakkan di luar seperti orang yang sedang pindahan.

“Tidak. Apa yang mereka lakukan malam-malam seperti ini?” Tanyanya sendiri.

“Terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati di jalan!” Ucapnya sebelum meninggalkanku.

Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang terjadi, tapi sepertinya itu tak ada hubungannya denganku. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke rumah.

***

Ini sudah hari ke tiga Rin Jin tidak masuk sekolah setelah kejadian itu. Awalnya aku pikir dia tidak masuk karena ulahku yang membawanya mengelilingi kompleks. Tapi tak mungkin dia tidak masuk sampai tiga hari hanya karena itu. Atau mungkin ini ada hubungannya dengan barang-barangnya yang berada di luar saat itu.

Selesai sekolah aku menemui penjaga sekolah yang kulihat sangat akrab dengannya di ruang kesenian.

“Paman, apa paman kenal dengan gadis yang sering berlatih piano di sini?” Tanyaku padanya yang sedang membereskan ruangan.

“Rin Jin maksudmu?” Tanyanya lagi.

Aku tidak pernah tahu namanya, tapi aku yakin dia orangnya.

“Ya. Apa hari ini dia datang ke sini?” Tanyaku.

“Tidak, sudah empat hari ini dia tidak datang. Apa kau temannya?” Tanya paman penjaga padaku.

“Ya, aku teman sekelasnya. Apa paman tahu sesuatu?” Tanyaku lagi, berharap dia memberi tahu sesuatu tentangnya.

“Entahlah. Tapi terakhir dia bilang bahwa appa-nya terlihat murung, dia ingin segera bisa memainkan piano untuk menghibur appa-nya.” Jelasnya padaku.

“Apa itu alasannya mengapa ia berlatih piano?” Tanyaku penasaran.

“Bukan. Dia tertarik dengan piano saat melihatku memainkannya. Kemudian dia memintaku mengajarkannya.” Jelasnya sambil mengalunkan lagu “My Everything” dengan indah.

Aku kemudian duduk di sebelahnya dan mencoba mengikuti gerakan jarinya.

“Wah, kau hebat. Apa kau sering berlatih piano?” Tanyanya saat melihat ku menirunya.

“Ini pertama kalinya aku menyentuh piano.” Jawabku singkat.

“Benarkah? Ah, aku rasa memang ada yang tidak beres dengan anak itu.” Rutuknya pada diri sendiri.

“Siapa? Maksud paman Rin Jin?” Tebakku.

“Ya. Aku sudah mengajarinya selama dua minggu, tapi sampai sekarang dia masih belum bisa melakukannya dengan baik. Aku bahkan hanya memerlukan waktu seminggu untuk mempelajarinya dari cucu ku.” Jelasnya panjang lebar.

“Benarkah? Dasar bodoh!” Kataku berharap dia mendengarnya.

“Tapi dia terus berlatih dengan keras, dia anak yang gigih.” Pujinya pada yeoja aneh itu.

Setelah memainkan piano beberapa kali dengan dibantu paman penjaga sekolah, aku segera berpamitan untuk pulang. Saat perjalanan pulang, aku sengaja melewati rumahnya untuk sekedar mencari tahu. Tapi ternyata di pagar rumahnya tertulis bahwa rumah itu disita. Aku benar-benar tidak tahu harus mencari kemana dan memutuskan untuk pulang.

_esoknya_

Hari ini aku berniat untuk menanyakannya pada teman sekelas, mungkin mereka mengetahui sesuatu. Aku belum sempat bertanya sampai dia datang ke sekolah. Entah kenapa aku merasa sedikit lega melihatnya kembali datang ke sekolah. Aku juga tidak tahu sejak kapan aku jadi mempedulikannya. Aku rasa aku terlalu berlebihan.

Bel berakhirnya sekolah pun berbunyi. Aku bermaksud menghampirinya setelah guru keluar dari kelas. Tetapi dia terlihat sangat buru-buru, sehingga aku mengurungkan niatku dan memilih untuk mengikutinya. Aku mengikutinya yang terburu-buru menaiki bis dengan motorku. Dengan cepat dia memasuki sebuah kedai. Aku berusaha menjaga jarak agar tetap bisa melihatnya tanpa dia tahu keberadaanku.

Ku lihat dia mengenakan seragam, apa mungkin dia bekerja part time? Tidak begitu jelas apa yang dia lakukan hingga akhirnya dia keluar tepat jam tujuh malam. Tak ku rasa aku menunggunya selama itu. Ini benar-benar rekor. Kulihat dia menunduk dengan pemilik kedai untuk berpamitan. Apakah sudah saatnya dia pulang?

Aku masih tetap mengawasinya dari jauh, bukan karena apa-apa tapi karena ini sudah gelap. Aku mengikutinya hingga sampai ke sebuah pub.

“Hei, mau apa dia ke sini?” Bisikku pada diri sendiri.

“Rin Jin-ah, kau bodoh kalau sampai masuk ruangan terkutuk itu.” Aku mencoba memperingatkannya meskipun dia tidak mungkin mendengarnya.

Kulihat dia berjalan tanpa ragu dan semakin dekat dengan pintu bodoh itu, lalu menghilang masuk ke dalam ruangan penuh kerlap-kerlip.

“Rin Jin-ah, tak ku sangka kau sebodoh ini.” Omelku sambil mengenjarnya ke dalam gedung.

Aku berhasil mengelabui penjaga-pejaga di sana sama seperti bagaimana Rin Jin melewati penjaga-penjaga itu. Untuk sekian detik perhatianku teralihkan dengan keadaan sekitar hingga kini aku kehilangan Rin Jin. Ini benar-benar tempat yang asing bagiku, terlalu ramai dan berisik. Lalu kemudian aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Rin Jin muncul dengan kemeja putih dan rok mini yang memperlihatkan kakinya dengan jelas. Tanpa banyak bicara aku segera menariknya keluar, jauh dari tempat itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Dia terus berteriak seperti itu sepanjang perjalanan.

Aku kemudian menghentikan langkahku di taman yang cukup sepi dan mendudukannya di kursi taman dengan sedikit kasar. Aku melepaskan jaketku dan melemparkan jaketku untuk menutupi kakinya.

“Hei, siapa kau? Apa yang kau lakukan?” Dia beranjak dari duduknya.

“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di sana?” Aku mulai menatapnya.

“Kyu?” Panggilnya saat dia menyadari bahwa yang dihadapannya adalah aku.

“Kenapa kau ada disini?” Aku mencoba mencari tahu.

“Ini tidak ada urusannya denganmu.” Jawabnya ketus dan mencoba pergi.

“Lepaskan!” serunya saat aku menghentikan langkahnya.

“Kau ingin kembali ke sana? Kau pikir dengan pakaian seperti ini mereka akan melirikmu?” Tanyaku sekenanya.

“Apa? Kau pikir aku wanita seperti apa, huh?” Tanyanya sedikit tersinggung dengan kata-kataku.

Dia kemudian menghela nafas dan kembali duduk. Aku pun ikut duduk disebelanya tanpa saling bicara.

“Appa, perusahaan appa ku bangkrut. Barang-barang kami semua disita untuk melunasi utang-utang. Sekarang appa dan omma bekerja sangat keras untuk menghidupi kami. Awalnya aku ingin putus sekolah dan bekerja untuk membantu mereka. Tapi mereka ingin aku lulus sekolah dengan baik. Akhirnya aku berpikir untuk bekerja paruh waktu.” Dia mencoba memberi tahuku apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku rasa mereka juga tidak ingin kau bekerja di tempat seperti itu.” Kataku sedikit menyesal.

“Ya. Tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk mereka, aku tidak mungkin hanya berpangku tangan. Aku ingin bisa kembali seperti dulu.” Lanjutnya.

“Sudahlah, sekarang lebih baik kau pulang. Kau juga perlu istirahat.” Aku mencoba membujuknya.

Aku kemudian mengantarnya ke rumah yang sekarang ia tempati. Appa dan ommanya, sepertinya masih berada di luar.

_esoknya_

Hari ini pun Rin Jin datang saat bel berbunyi. Dia benar-benar bekerja keras untuk mengembalikan keluarganya seperti dulu. Dia bekarja mengantarkan susu dulu sebelum kemudian masuk sekolah. Itu sebabnya dia selalu terlambat saat masuk kelas. Semenjak malam itu aku bertekat untuk membantunya dan menjadi sandaran untuknya ketika dia lemah. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjaganya dan tidak akan membiarkan dia jatuh sekali pun.

Bel tanda sekolah usai telah berbunyi. Aku membereskan bukuku dan pergi tanpa sepengetahuan Rin Jin. Aku sampai di kedai tempat Rin Jin bekerja sebelum dia datang. Aku kemudian masuk dan menghampiri pemilik kedai tersebut.

“Annyeong haseyo ahjushi, saya ingin bekerja disini. Apa ada yang bisa saya lakukan?” Tanyaku pada pemilik kedai itu.

Dia tampak terkejut dengan permintaanku. Kemudian terdengar seorang pelanggan meminta untuk dilayani. Tanpa menunggu aba-aba, aku segera mengambil kertas dan pulpen dan menghampiri pelanggan tersebut.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku pada dua wanita yang baru saja datang.

“Ah, iya. Ahh, kami ingin memesan…. Emm…” Katanya sedikit terbata-bata.

“Kami punya beberapa menu spesial disini.” Kataku sambil menawarkan beberapa menu yang ada kepadanya.

“Ahh, ya. Kami pesan menu spesial saja.” Katanya tanpa mengalihkan pandangannya dariku.

Wah, sepertinya mereka sedang mengagumi ketampananku.

“Ada lagi yang bisa saya bantu?” Tanyaku lagi sambil mengeluarkan senyuman paling manis yang aku punya.

“Hmm, mungkin nanti.” Katanya kali ini tanpa berkedip melihatku.

“Baiklah. Silahkan tunggu sebentar.” Kataku sebelum meninggalkan mereka.

Aku bisa merasakan mereka masih memandangku meskipun aku sudah pergi. Inilah salah satu alasan kenapa aku menjadi tidak begitu peduli dengan sekitarku. Mereka terlalu berlebihan melihatku. Tapi aku rasa kali ini aku akan memanfaatkannya dengan baik.

Kyu POV END

Rin Jin POV

“Ahh, maaf ahjushi aku telat. Sepertinya hari ini kita kedatangan banyak pelanggan.” Kataku saat sampai di kedai dan melihat banyak sekali yang datang.

“Seseorang datang dan meminta bekerja di sini, dalam sekejap kedai ini langsung ramai.” Kata ahjushi setengah tidak percaya.

“Benarkah?” Tanyaku tak percaya.

“Ahjushi, ini pesanan meja nomor 13.” Kata seorang namja yang terlihat sangat sibuk.

“Hei, kenapa kau diam saja. Cepat kerja!” Teriaknya padaku yang membuat aku dapat mengenalinya.

“Kyu?!” Aku sedikit terperanjat.

“Sajak kapan kau di sini?” Lanjutku.

“Sejak tadi.” Jawabnya singkat.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku lagi.

“Sama sepertimu, Aku juga kerja di sini. Dengan begini, kau tidak punya alasan untuk kembali ke tempat itu lagi, bukan?” Jawabnya.

Kali ini aku tak dapat berkata apa pun. Apa dia melakukan ini untukku? Suasanya menjadi aneh.

“Gomawo.” Kataku pelan, hampir tak terdengar.

“Onnie, aku ingin pesan.” Teriak pelanggan kami, memecah suasana.

“Nde.” Aku pun segera menghampiri mereka dan meninggalkan Kyu yang masih berdiri di sana.

Rin Jin POV END

Kyu POV

Sudah hampir empat bulan kami bekerja di kedai. Aku selalu mengantarnya pulang setelah pekerjaan kami selesai. Akhir-akhir ini kami sengaja meluangkan waktu untuk belajar bersama karena minggu ini adalah minggu ujian. Terlalu lama bersamanya membuat kami menjadi bahan pembicaraan teman-teman di kelas.

“Apa yang kau pikirkan? Bukankah ujian sudah selesai?” Aku mendaratkan pukulan kecil di kepalanya yg sedang menggerakkan jari-jarinya sambil menghitung.

“Kyu! Aku sedang menghitung uang tabunganku ditambah gaji bekerja di kedai dan mengantar susu selama empat bulan, aku rasa aku bisa membuatkan café untuk omma.” Dia memperlihatkan muka polosnya.

Aku tak pernah bisa selamat melihat muka polosnya itu, dia selalu meruntuhkan pertahananku.

“Kau ingin membuat café untuk omma mu?” Tanyaku sambil duduk di depannya.

“Ya, aku rasa dengan begitu omma tidak perlu bekerja terlalu keras, aku pun bisa ikut membantunya.”  Jelasnya.

Memang setelah kejadian itu, pertemuan Rin jin dengan ibunya semakin jarang. Ya, aku rasa membuat café adalah ide yang bagus.

“Kalau begitu ambillah gajiku juga.” Kataku padanya.

“Eh? Kenapa aku harus mengambil gajimu juga?” Tanyanya heran.

“Anggap saja itu adalah gajimu di pub malam itu.” Jawabku enteng.

Karena sebenarnya tujuan aku bekerja di sana adalah memang untuk membantunya.

“Kau mengejekku? Tidak, aku tidak mau.” Jawabnya ketus.

“Kau ini, tak bisa menerima maksud baik orang ya?” Protesku.

Dia menggelumbungkan pipinya, dia terlihat sangat manis.

“Kyu, kau disini ternyata.” Sapa Changmin yang datang tiba-tiba.

“Kyu, sabtu ini  kelas kita mendapat giliran tanding basket. Kau bisa ikut kan?” Lanjutnya.

Ya. setelah ujian selesai, sekolah kami biasa mengadakan pertandingan antar kelas untuk mengisi kekosongan jadwal.

“Hmm? Ahh, aku sedang tidak minat.” Kataku tanpa pikir panjang.

“Ayolah Kyu, lawan kita kali ini kakak kelas. Tanpa kau, kita bisa kalah telak.” Katanya sambil memohon padaku.

“Rin Jin-ah, ayo bantu kami bujuk kekasihmu itu.” Changmin mencoba membujukku melalui Rin Jin.

“Anio!” Rin Jin segera menyanggahnya.

“Kami tidak pacaran!” Lanjutnya sambil melirik ke arahku seolah meminta bantuan.

Aku hanya memandanginya dan melihat reaksinya menanggapi ucapan Changmin tadi tanpa membantunya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ya, tidak ada yang spesial dari hubungan kami. Tapi kenapa aku kecewa dengan penyanggahannya. Apa aku sedang berharap gossip itu menjadi kenyataan. Tidak mungkin!

“Jadi sabtu ini kalian akan tanding? Kalau begitu aku akan bawakan makanan untuk kalian.” Ucap Rin Jin mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Benarkah? Gomawo Rin Jin-ah!” Serunya sangat senang.

“Kyu, bagaimana kalau kau ikut juga? Lalu kita kalahkan mereka!” Seru Rin Jin bersemangat.

“Kau saja sendiri.” Kataku kesal.

Bagaimana dia bisa berlaku manis di depan orang itu, sedang di depanku dia hanya bisa marah-marah.

“Aiish, orang ini berlagak sekali. Yasudah, sabtu ini akan aku bawakan makanan ya.” Katanya sekali lagi pada Changmin yang kemudian pamit.

“Kau, bisakah sekali saja bersikap baik?” Tanyanya saat Changmin mulai menjauh.

Kyu POV END

Rin Jin POV

Hari ini adalah hari terakhir ujian. Aku baru saja menyelesaikan soal ujianku dan segera menghampiri Kyu yang sudah bosan menunggu di luar.

“Kyu!” Panggilku pada kyu yang sedang mendengarkan musik.

“Kau ini lama sekali. Bukankah soalnya sudah kita pelajari tadi malam?” Tanyanya saat aku menghampirinya.

“Aku sedikit lupa. Benarkah kau tahu tempat yang cocok untuk membuat café untuk ibuku?” Tanyaku padanya.

“Ne. Kajja!” Katanya sambil berjalan meninggalkanku.

Kemudian dia membawaku ke sebuah gedung yang cukup strategis untuk mendirikan café yang rencananya akan ku berikan pada omma. Keuangan keluarga kami mulai membaik, tapi appa dan omma masih terus bekerja untuk membiayai sekolahku. Di sekolah, berkat bimbingan privat dari Kyu, semester kemarin aku dibebaskan dari biaya sekolah. Dengan uang tabungan, beasiswa serta upah kerjaku selama empat bulan mengantarkan susu dan bekerja di kedai, aku ingin memberikan omma café. Semenjak kejadian itu aku sangat merindukan appa dan omma, mereka terlalu sibuk bekerja. Aku harap dengan mendirikan café ini omma, appa dan aku bisa kembali seperti dulu.

“Wah, tempat ini bagus sekali. Apa uangku cukup untuk menyewanya?” Tanyaku khawatir pada Kyu.

“Sudah, biar aku yang urus.” Jawabnya enteng.

Aku pun akhirnya menyewa gedung itu dengan bantuan Kyu. Kyu kemudian mengantarku pulang dengan motor hitamnya. Rencananya besok kami akan kembali untuk mendekor gedung dan menyiapkan semuanya.

“Hei Kyu, besok kelas kita kan akan tanding basket, kita lanjutkan lusa saja ya.” Kataku yang baru menyadarinya.

“Kau benar-benar akan datang ke sana?” Tanyanya padaku.

“Ya, aku sudah janji pada mereka akan bawa makanan.” Jawabku.

“Ayo kau juga ikut saja!” Ajakku padanya, berharap dia berubah pikiran.

“Tidak.” Jawabnya ketus.

“Yasudah.” Kataku tak berusaha memaksanya.

“Aku turun di sini saja, aku ingin membeli beberapa bahan makanan untuk besok.” Pintaku saat kami berada di depan supermarket.

“Terima kasih, Kyu. Hati-hati di jalan.” Kataku saat turun.

Dia tidak membalasnya sama sekali. Apa dia marah karena aku menunda acara pendekoran café? Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur janji.

Besoknya seperti janjiku aku datang dengan membawa sandwich dan beberapa roti untuk menyemangati teman-teman sekelas kami yang akan bertanding. Berhubung ujian kami sudah selesai, jadi kehadiran pun sudah tidak berpengaruh lagi. Meskipun begitu , sekolah kami masih tetap ramai karena banyak perlombaan-perlombaan antar kelas.

“Rin Jin-ah!” Panggil Changmin dari kejauhan saat aku memasuki gedung olahraga kami.

“Changmin, kalian sudah siap?” Tanyaku saat bergabung dengan mereka.

“Apa Kyu benar-benar tidak datang?” Tanya Changmin padaku.

“Tenang.. Tanpa dia, kalian juga pasti bisa.” Aku mencoba menyemangatinya.

“Jam berapa kalian main?” Lanjutku.

“Setelah ini gilirang kami.” Jawabnya agak gugup.

“Kalian pasti menang. Kalau sudah menolak, dia tak mungkin datang ke sini.” Kataku agar mereka tidak terlalu berharap dengan kedatangan Kyu.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yeoja-yeoja di arah pintu masuk.

“Hei, bukankah itu Kyu?” Kata Taemin sambil menunjuk kerumunan di belakangku.

Aku pun menoleh dan melihat Kyu sedang berjalan ke arah kami, di sambut dengan suara histeris dan kagum yeoja-yeoja yang ada di gedung olah raga ini.

“Hei, seterkenal itukan dia?” Kataku dalam hati.

“Kyu, kau datang?” Sapa Changmin saat Kyu sudah bergabung dengan kami.

“Ya, sudah lama aku tidak bermain basket.” Katanya dengan sombongnya.

“Kalau begitu kau harus ganti baju sekarang, sebentar lagi kita tanding.” Kata Changmin yang kemudian menyodorkan pakaian olah raga yang diambilnya dari Jonghyun.

“Tidak, aku pakai seragam ini saja.” Katanya enteng.

“Tapi, aturannya kita harus memakai baju olah raga.” Kata Changmin panik.

“Tidak apa, nanti biar aku saja yang bilang.” Jawabnya lagi.

“Tapi…” Changmin menggantungkan kata-katanya.

“Sudah, biarkan saja dia. Kalau nanti bajunya robek kan dia sendiri yang malu. Kalau bajunya basah karena keringat juga kan dia yang merasakan. Lagi pula aku tak yakin dia bisa mencetak angka.” Kataku yang kesal dengan tingkahnya.

Aku merasakan dia langsung menatap tajam ke arahku. Kemudian dia pun mengambil baju olah raga dari tangan Changmin dan segera ke ruang ganti untuk menggantinya.

Pertandingan pun di mulai. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa mengalahkan kakak kelas yang menjadi lawannya itu. Aku rasa perbedaannya terlalu jauh. Tapi kemudian, setelah beberapa menit tertindas, pertandingan mulai dikuasai oleh Kyu dkk. Kyu mulai bisa membangun kerja sama dengan Changmin, Taemin, Onew dan Minho. Permainan mereka membaik dan mulai memecah pertahanan lawan. Para supporter pun menyemangati mereka, termasuk aku. Dengan perjuangan dan kerja sama yang baik, akhirnya pertandingan berhasil kami menangkan meskipun dengan skor tipis 35:34.

Setelah selesai, aku menunggu mereka yang sedang ganti baju. Aku menyiapkan makanan dan minuman yang sengaja ku bawa tadi. Changmin, Taemin, Onew, Minho dan yang lain sudah terlihat keluar dan mulai bergabung bersama anak-anak sekelas.

“Rin jin-ah, terima kasih ya. Sandwich nya enak sekali.” Kata Onew padaku.

“Nde. Tadi kalian hebat sekali.” Aku memuji pertandingan mereka.

“Kyu, dia memang hebat. Padahal sebelum ini kita tidak pernah latihan bersama.” Ucap Taemin.

“Oiya, kemana perginya Kyu? Kenapa dia tidak datang bersama kalian?” Tanyaku pada mereka.

“Iya, tadi dia bersama kami. Aku rasa dia masih di ruang ganti.” Kata changmin sambil mengingat-ingat.

“Yasudah, biar aku saja yang memberikan sandwich padanya.” Kataku sambil mengambil sandwich bagiannya dan pergi menyusulnya.

Tapi saat belum berjalan cukup jauh aku melihatnya sedang dikerumuni oleh yeoja-yeoja. Mereka mengucapkan selamat dan memberikan makan dan minuman padanya. Tidak tahu kenapa, aku menjadi sangat marah melihat ini. Tanpa sadar aku melahap sandwich yang ku pegang hingga memenuhi mulutku. Dengan susah payah aku berusaha menelan bulat-bulat semua yang ada di mulutku. Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dan membuatku kehabisan nafas karena tersedak.

“Rin Jin, kau tidak apa-apa?” Terdengar suara Changmin di sekitarku.

“Uhuuk!!” Aku mencoba mengeluarkan Sandwich itu dari tenggorokkanku.

“Hei, kau tersedak?” Tanyanya sambil memukul-mukul punggungku.

“Ahh, bagaimana ini?” Katanya panik hingga menarik perhatian banyak orang.

Dia mencoba memukul-mukul punggungku agar makanan bodoh itu keluar. Tiba-tiba kyu datang dan memutar tubuhku hingga membelakanginya, lalu melingkarkan tangannya di perutku. Dia memberi aba-aba padaku untuk mendorong keluar makanannya sedang dia mencoba memberikan tekanan pada perutku. Setelah mencobanya beberapa kali akhirnya makanan itu keluar juga. Aku pikir aku akan mati dibuatnya.

“Haah.. hahh.. uhuuk.. uhuuk!” Aku mencoba mengatur nafas dan terbatuk-batuk karena masih merasa tidak nyaman dengan tenggorokanku.

“Ini, minum dulu.” Kata Kyu sambil menyodorkan minuman ke arahku, lalu membawaku bergabung dengan yang lain.

“Terima kasih.” Jawabku setelah bergabung dan mendapat duduk.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Changmin padaku.

“Ya, sudah baikkan.” Jawabku.

Entah kenapa mataku memaksa untuk mencari Kyu. Dia lalu mangalihkan pandangannya dariku.

“Aku lapar, mana sandwich bagianku?” Katanya pada Taemin.

“Bagianmu? Bukankah tadi Rinjin sudah memberikannya padamu?” Jawabnya.

“Aku.. tadi tiba-tiba aku merasa lapar jadi ku habiskan juga bagianmu.” Kataku terbata-bata saat dia menatapku.

“Tapi, bukankah kau sudah mendapat banyak makanan dari gadis-gadis tadi?” Sindirku.

“Mereka yang memberiku. Lagipula karena ulahmu aku meninggalkan makanan-makanan itu tanpa sempat memakannya.” Jawabnya sedikit jengkel.

“Ayo, kau harus mentraktirku dulu sebelum pulang!” Kyu kemudian menarikku dan mengambil tasku lalu menjauh dari yang lain.

Aku hanya mengikutinya tanpa perlawanan. Aku merasa sangat bersalah padanya.

“Kau mau makan apa?” Tanyaku ragu-ragu.

“Kita ke café-mu saja, buatkan aku makanan. Setelah itu kita mulai mendekornya.” Jawab Kyu.

Kami pun menghabiskan waktu kami untuk mendekor café dengan suasana yang aneh.

Setelah pertandingan itu, Kyu dan Changmin dipanggil untuk menjadi pemain inti di sekolah. Sedang yang lain ikut masuk ke dalam ekskul basket di sekolah. Meskipun ini minggu libur menjelang tahun ajaran baru, tapi latihan basket tetap berjalan. Kadang aku ikut menemani mereka latihan  sebelum kemudian pergi menyelesaikan pekerjaan kami di café. Dan hari ini kami sengaja mengajak Changmin, Taemin, Minho, Jonghyun dan Onew ikut ke café untuk membantu kami finishing café.

“Wah, ini sudah hampir selesai. Apa kalian berdua yang mendekornya?” Tanya Minho saat tiba di depan café.

“Ya, aku harap dengan bantuan kalian hari ini semua bisa selesai.” Kataku yang disanggupi oleh mereka.

“Hei, sebenarnya hubungan kalian itu seperti apa sih? Dibilang pasangan bukang, dibilang teman juga aku rasa bukan.” Tanya Changmin tiba-tiba.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Kami kemudian memandang satu sama lain.

“Ahh.. Kalian itu berpikir terlalu jauh. Kami benar-benar hanya teman kok.” Sanggahku cepat-cepat.

“Ayo, kita harus segera menyelasaikan ini sebelum malam.” Kyu tidak menanggapi pembicaraan kami sama sekali.

Akhirnya kami pun berhasil menyelesaikan dekorasi café dengan sangat memuaskan. Aku berencana mengajak omma dan appa setelah sekolah kami mengadakan perpisahan untuk kelas tiga dan kami mendapatkan raport hasil belajar kami di sekolah selama satu tahun.

_Hari perpisaahan kelas tiga_

“Kyu kemana ya? Aku tidak melihatnnya dari tadi.” Kataku pada Changmin yang kebetulan bertemu saat acara perpisahan.

“Aku juga tidak melihatnya. Ada apa?” Tanyanya.

“Ah, tidak ada.” Kataku segera kembali ke tempat dudukku.

Hari ini aku ingin membawa omma dan appa ke café. Tapi kenapa disaat seperti ini Kyu malah tidak bisa dihubungi. Aku putuskan untuk mengikuti acara ini dulu, lalu mencarinya dan menghabisinya.

Meskipun aku berpikir untuk mengikuti acara, tapi aku tetap mencoba menghubunginya di tengah-tengah acara. Akhirnya acara inti selesai. Sebelum aku sempat beranjak, tiba-tiba semua lampu dimatikan. Aku kembali duduk karena ruangan menjadi gelap. Tidak lama lampu sorot mengarah ke seseorang yang sedang bermain piano di atas panggung. Dia menyanyikan lagu “My Everything” yang sebelumnya sempat aku pelajari di ruang kesenian.

Semua murid sangat kagum dengan suara dan permainan pianonya, begitu pun aku. Aku mencoba memperjelas penglihatanku untuk melihatnya.

“Kyu!” Seruku tidak percaya.

Every time I pray down on bending knee, that you will always be My Everything..

Oh My Everythiing~

“Saranghae RinJin-ah” Kyu mengakhiri lagunya.

Meskipun cukup gelap, tapi aku bisa merasa semua mata memandangku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa menundukkan kepala karena malu.

“Hari ini aku ingin mengucapkan selamat untuk kakak kelas yang berhasil lulus dengan baik. Mungkin hari ini adalah hari penting untuk kalian. Sama halnya dengan kalian, saya juga ingin membuat hari ini menjadi hari yang penting. Karena pada kesempatan ini saya ingin menyatakan perasaan saya kepada seseorang yang telah banyak merubah hidup saya, Kim RinJin.” Ucapnya panjang lebar.

Kali ini aku benar-benar telah menjadi tontonan banyak orang, karena lampu sorot lain telah mengarahkan sinarnya padaku. Aku benar-benar salah tingkah dibuatnya. Kemudian terdengar seseorang mengambil alih untuk memainkan piano dengan lagu yang sama tetapi dengan tempo yang diperlambat, sedang dia berjalan ke arahku sambil bernyanyi. Dia semakin dekat dan mengakhiri lagunya dengan mengulurkan satu bouquet bunga ke arahku.

Tanpa ragu aku pun mengambilnya karena aku juga merasakan hal yang sama. Dan semua siswa bersorak gembira. Senyumku tak hentinya berkembang dan aku rasa mukaku sudah memerah seperti kepiting rebus karena malu.

“Cium…cium…cium…!!” Seperti sebuah paduan suara semua siswa menyuruh kami berciuman.

Mendengar itu, aku segera menghamburkan pandangan tak percaya ke sekelilingku. Aku terkejut dengan apa yang mereka katakan. Aku kembali memandang Kyu, berharap dia melakukan sesuatu. Alih-alih menghentikan semua ini, dia justru menatapku dalam dan mempersempit jarak kami. Aku segera menutup mataku rapat-rapat dan memilih diam. Dan sebuah kecupan manis mendarat di keningku. Aku membuka mataku dan mendapatinya tersenyum dengan tatapan lembut. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Terima kasih.” Kataku padanya.

“Kau suka?” Tanyanya diikuti dengan anggukkanku.

“Suaramu indah.” Tambahku.

Acara pun selesai dan semua orang memberi kami selamat. Di sela itu aku melihat paman penjaga sekolah tersenyum senang di balik piano. Ternyata, dia berada di balik semua ini. Aku pun membalas senyumannya.

RinJin POV END

­­­____Flashback END____

Kyu POV

“Setelah itu kami berhasil menghadiahkan omma Rinjin sebuah café dan hubungan kami berjalan dengan baik. Sejak saat itu aku berjanji sekali lagi pada diriku untuk melindunginya dan tidak akan membiarkannya jatuh dan menangis, karena aku akan selalu ada di sisinya.” Kataku setelah menceritakan semua pada Eunhyuk hyung.

“Lalu, kenapa kalian berpisah?” Tanya Eunhyuk hyung hati-hati.

“Tetapi kenyataan berkata lain. Dia berhasil mengantarkanku pada mimpiku untuk lepas dari bayang-bayang orang tuaku dan berdiri sebagai penyanyi seperti saat ini. Tetapi, ini justru membuatku aku yang seharusnya menjadi sandaran saat dia sedih malah menjadi satu-satunya orang yang membuatnya menangis.” Kataku sedikit menyesal.

“Aku tak mungkin menenangkannya sedang akulah penyebab semua kesedihannya. Tapi, untunglah saat itu kau yang datang menggantikan posisiku, hyung. Aku tahu, kau pasti bisa menjaganya dengan baik, sama seperti saat kau menjagaku.” Lanjutku.

“Hmm, apakah itu berarti kau sudah menyetujui hubungan kami?” Tanya Eunhyuk hyung padaku.

“Entahlah hyung, dia begitu berharga untukku.” Jawabku tanpa menatapnya.

Ini terlalu berat untukku, aku masih butuh waktu untuk menerima semua ini.

 

Bagaimana hubungan Eunhyuk dan RinJin selanjutnya??

Coming soon!! -My Endless Love-

see you ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: