My Endless Love (Sequel “Why I Like U”)

1 May

Genre : Netral
Leight : 25 pages
Cast:
Kim Rin Jin
Lee Hyuk Jae
Cho Kyuhyun
Other cast

This is it….

Rinjin POV

Lampu akhirnya dinyalakan, pertanda konser telah selesai. Hari ini Super Junior kembali menggelar konser mereka di Seoul setelah sukses menggelar konser di berbagai Negara.

“Kyaa, Eunhyuk oppa keren sekali!!” Adu seorang penonton pada teman di sebelahnya.

“Tak ku sangka banyak sekali yeoja yang menyukai namja napun seperti dia.” Kataku lebih kepada diriku sendiri.

Semua penonton masih sibuk mengekspresikan perasaannya setelah menonton pertunjukan hebat dari idola mereka yaitu, Super Junior. Aku masih mengedarkan pandangan takjub ke seluruh penjuru ruangan yang lebih mirip lautan. Hingga tiba-tiba ponselku bergetar.

SMS
Rinjin-ah, kau datang bukan? Cepat temui aku di backstage. Aku merindukanmu.

Pesan dari Eunhyuk oppa membuat sebuah senyum kecil terpancar dari wajahku. Aku sengaja tidak memberitahunya kalau aku akan datang. Tapi sepertinya dia menyadari kehadiranku.

Reply
Apa oppa melihatku? Baiklah. Aku juga merindukanmu.

Setelah membalas pesannya, aku segera menuju backstage dan menemukannya sedang menungguku di dekat pintu.

“Ayo cepat! Yang lain sudah pergi.” Katanya sambil menarik tanganku melewati para staff dan bodyguard.

Aku pun mengikutinya naik ke mobil yang sudah dipenuhi para staff. Akhirnya kami sampai di sebuah restoran. Terlihat semua orang sudah memenuhi restoran yang sepertinya sudah dipesan untuk suatu pesta.

“Hyuk!” panggil Leeteuk oppa saat kami memasuki restoran.

Ternyata member dan staff yang lain sudah sampai lebih dahulu. Dan saat ini berbagai makanan sudah tersedia diatas meja.

“Itu mereka.” Katanya sambil membalas panggilan Leeteuk oppa.
Akhirnya kami bergabung bersama member dan staff lain.

“Rinjin-ah, apa kabar?” Tanya Leeteuk oppa saat menyadari kehadiranku.

“Baik. Oppa, tadi kau keren sekali!” Pujiku padanya.

“Hei, kau tidak bilang begitu padaku!” Potong Eunhyuk.

“Aish, sudah besar masih ngiri. Kaya anak kecil aja.” Balasku yang diikuti dengan jitakkan kecil.

“Ya! Sakit!” Kataku sambil mengusap-usap kepalaku.

Seperti biasa semua tertawa melihat kelakuan kami yang kekanak-kanakkan. Kemudian pesta untuk merayakan keberhasilan konser mereka pun dimulai. Semua sangat puas dengan hasil kerja keras mereka. Aku yang tidak punya andil pun ikut merasakan kebahagiaan mereka.

Drrt….Drttt…

Ponselku bergetar, aku pun segera menjauhi keramaian untuk mengangkat telepon.

“Ne Omma.” Kataku saat menerima panggilan darinya.

“YA! SUDAH JAM BERAPA INI? KENAPA KAU BELUM PULANG JUGA? MAU JADI APA KAU MALAM-MALAM BEGINI MASIH DI LUAR, HAH?” Teriak omma yang sontak membuatku menarik ponsel jauh-jauh dari telingaku.

Aku melirik ke arah jam tanganku yang menunjukkan jam 12 lewat.

“Ah, iya omma. Sebentar lagi aku pulang kok.” Kataku menyesal.

“Memang konsernya belum selesai juga?” Tanya omma sedikit mengecilkan suaranya.

“Konsernya sudah selesai dari tadi, hanya saja tadi aku diundang ke pesta untuk merayakan keberhasilan mereka.” Jelasku.

“Jadi kau sekarang sedang bersama Kyu?” Tanyanya lagi.

“Kyu? Ah, iya. Dia juga ada di sini.” Jawabku.

“Wah, bagus kalau begitu.” Katanya tiba-tiba berubah senang.

“Heh?” Tanyaku tak mengerti.

“Rinjin-ah, kau harus memanfaatkan moment ini dengan baik. Ibu sangat senang jika kalian bisa kembali seperti dulu.” Lanjutnya.

“Omma..” Panggilku, berharap omma sadar dengan apa yang sedang dibicarakan.

“Begini saja, malam ini kau tidak usah pulang. Kau harus bisa mengambil hati Kyu kembali, mengerti?” Tambahnya yang sukses membulatkan mataku.

“Apa? Tapi omma,…” Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.

“Ingat, kalau kau sampai pulang pun omma tak akan membukakan pintu untukmu malam ini.” Potongnya yang langsung memutuskan telpon secara sepihak.

“Omma! Omma! Ya!” Aku mencoba memanggilnya berharap omma masih mendengarnya.

“Huuh! Omma benar-benar!” Rutukku sendiri.

“Telpon dari siapa? Omma?” Tanya Eunhyuk oppa yang aku tak tau sejak kapan berada di belakangku.

“Oppa~” Rengekku.

“Kenapa? Apa yang terjadi dengan omma?” Tanyanya sedikit khawatir.

“Buruk!” Jawabku asal.

“Kenapa?” Tanyanya penasaran.

“Omma bilang malam ini aku tidak boleh pulang ke rumah.” Aduku.

“Apa kau dimarahi karena pulang larut malam?” Tebaknya.

“Bukan, omma menyuruhku untuk…” Aku menggantungkan kata-kataku mengingat hal yang memalukan itu tak boleh sampai ke telinganya.

“Untuk tidur di luar malam ini.” Aku mencoba mencari alasan lain, tapi justru terdengar seperti mengulang kata yang tadi.

“Ahh, kalau begitu menginap saja didorm kami.” Katanya yang membuat mataku membulat untuk kedua kalinya.

“Tidak!” Tolakku mentah-mentah.

“Yasudah, kalau kau memang mau tidur di jalanan.” Jawabnya yang membuatku berpikir ulang.

Setelah selesai acara Eunhyuk oppa membawaku ke dormnya, tentu saja dengan seizin manajer dan para member yang lain.

“Kalian cepatlah mandi! Jangan lama-lama karena kita kedatangan tamu.” Ucap Leeteuk oppa pada yang lain.

“Hyung, kau tidur di kamar kami saja.” Tawar Kyu saat Eunhyuk oppa menarik tanganku.

“Hei, kenapa kamar kita?” Tanya Sungmin oppa yang diikuti tatapan tajam dari Kyu.

“Ya, kau boleh pakai kamar kami.” Ucap Sungmin oppa berubah pikiran.

“Ya, nanti aku kesana.” Kata Eunhyuk oppa yang langsung membawaku ke kamarnya.

“Wah, kamarmu rapih sekali!” Tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar.

“Mana, kau membawanya bukan?” Tanyanya padaku.

“Apa?” Aku berbalik tanya.

“Kamera. Kau pasti tadi mengambil banyak fotoku.” Katanya dengan sangat percaya diri.

“Huh, dasar!” Aku pun mengambil kamera dan laptop dari tasku.

“Kenapa sedikit sekali?” Katanya kecewa saat melihat isi kameraku.

“Mana sempat aku memotret-motret kalian.” Jawabku kecil.

Jelas saja, ini pertamakalinya aku kembali melihat Eunhyuk oppa dan yang lain di atas panggung setelah konsernya keliling dunia. Aku lebih memilih menikmati konser dibanding repot-repot mengambil foto.

“Wah, kau terpesona melihatku kan, sampai-sampai tak sempat memotret tadi?” Katanya, lagi-lagi dengan percaya diri yang tinggi.

“Memangnya aku photographer pribadimu!” Kataku berusaha menyembunyikan mukaku yang memerah.

“Wah, tapi semua terlihat sangat keren. Kau memang Photographer andalanku.” Ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.

“Mana?” Kataku sambil menengadahkan tanganku.

“Apa?” Tanyanya kaget.

“Bayaranku. Kau tahu kan, bayaran seorang photographer itu mahal, apalagi yang professional seperti aku.” Kataku sombong.

“Ah, benar. Kau tak mungkin bisa membayarnya.” Lanjutku tanpa menunggu jawaban darinya.

“Kau yakin? Coba tatap aku!” Katanya tidak terima.

“Ya, aku sangaat yakin!” Kataku dengan segala penekanan.
Dia pun memejamkan matanya dan mendaratkan kecupan dibibirku.

Chuu~

1…2…3…4…5…

Dia menarik dirinya dan menatapku lagi. Tubuhku benar-benar tak bisa digerakkan. Wajahnya terlihat sangat jelas. Aku tidak tau harus bagaimana.

“Apa itu cukup?” Tanyanya.

Aku rasa mukaku menjadi benar-benar merah.

“Ah, mungkin aku harus memberimu sedikit tips.” Katanya sambil sekali lagi mendekatkan wajahnya padaku.

“Mungkin kau ingin kembalian.” Kataku dengan menunjukkan kepalan
tangan yang siap mendaratkan pukulan di pipinya.

“Ah, aku rasa kau tidak membutuhkan tips.” Dia menarik kata-katanya dengan cepat sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Jantungku bekerja semakin cepat hingga rasanya aku kesulitan bernafas. Udara di kamar Eunhyuk oppa yang sebelumnya dingin pun sekarang berubah menjadi panas. Suasananya jadi semakin aneh.

“Kenapa kamar ini jadi semakin panas ya?” Katanya sambil mengipas-ngipas dengan menggunakan tangannya.

“Ah, biar ku lihat dulu apa mereka sudah selesai mandi atau belum.” Katanya seolah pamit denganku.

“Huuft…” Aku pun menghela nafasku panjang-panjang setelah memastikan dia keluar dari kamar.

“Bagaimana kalau dia sampai menciumku dua kali? Aku tak mungkin bisa menolaknya!” Kataku yang langsung menggeleng-gelengkan kepalaku berharap itu tidak terjadi.

Lalu aku melanjutkan aktivitas dengan laptopku.

Setelah beberapa lama, Eunhyuk oppa pun datang.

“Rinjin-ah, kamar mandinya sudah siap.” Katanya saat masuk ke kamar.
Sepertinya dia sudah mandi. Dia terlihat lebih segar dan wangi.

“Tapi aku tidak membawa baju ganti.” Kataku pada Eunhyuk oppa.

“Ini baju ganti untukmu. Aku membelinya saat kami konser di luar kemarin.” Katanya sambil menyodorkan handuk dan pakaian padaku.

“Waah, ini baju couple ya??” Tanyaku senang saat melihat motif baju yang dikenakannya sama dengan milikku.

Dia tersenyum. Aku pun merentangkan bajunya untuk melihat lebih jelas. Dan sesuatu terjatuh dari sela baju itu. Aku yang terkejut melihatnya segera mengambil dan menyembunyikannya kembali. Ternyata itu adalah pakaian dalam wanita!!

“Kau juga membelikan aku barang ‘ini’?” Tanyaku menunjuk pakaian
dalam yang sudah kuselipkan disela baju ganti dan handuk yang ku pegang.

“Tidak. Aku hanya melihat itu bagus jadi aku belikan untukmu.” Mukanya berubah jadi merah.

“YA! Apa yang kau pikirkan hah??” Tanyaku masih tidak percaya.

“Bukan, bukan begitu. Aku hanya berpikir itu bagus, itu saja. Ah, sudahlah. Bukankah sekarang kau membutuhkannya?” Katanya mencoba mengalihkan.

Ya, dia benar. Aku mencoba untuk tidak berpikir macam-macam. Aku kemudian berbalik untuk pergi ke kamar mandi. Tapi itu membuatku tidak nyaman!

“Kau! Jangan berpikir macam-macam ya!” Kataku yang berbalik tiba-tiba padanya.

“Tidak! Sudah sana mandi!” Katanya cepat.

Setelah selesai mandi aku pun kembali masuk kamar. Eunhyuk oppa sedang asik melihat-lihat foto dan video dirinya sendiri.

“Rinjin-ah, kau koleksi video apa ini?” Tanyanya saat melihat sebuah folder.

“Oh, itu video variety show oppa bersama artis-artis yeoja.” Kataku santai.

“Kenapa kau koleksi video-video seperti itu, hah?” Tanyanya heran.

“Aku hanya mau lihat perlakuan oppa ke yeoja-yeoja di luar sana.” Jawabku seadanya.

“Apa kau cemburu?” Ledeknya.

“Tidak, hanya saja kau terlihat tampan di sana. Tapi kadang aku berpikir, mungkin kau tidak benar-benar menyukaiku. Karena kau juga melakukan hal yang sama pada yeoja lain.” Ledekku.

“Ayolah, itu kan cuma acting.” Katanya membela diri.

“Ya, tapi kadang itu terlihat sangat nyata.” Kataku sambil mengingat-ingat lagi.

“Baiklah, kalau begitu kau tidak boleh menonton ini tanpa seizinku!” Katanya yang langsung menghapus folder itu.

“Eh? Kenapa?” Aku mencoba menghentikannya.

“Terlalu banyak nonton itu kau jadi semakin bodoh, kau tahu?” Katanya sambil merutuki kepalaku.

“Tapi aku cuma bisa liat oppa dari acara-acara seperti itu.” Rengekku.

“Kalau kau terus menonton itu, aku jadi susah karena harus menjelaskannya satu-persatu padamu. Mengerti?” jelasnya.

Aku pun hanya mengangguk pasrah.

“Sudah sana tidur!” Pintanya padaku.

Aku pun segera menuju kasur dan merebahkan tubuhku di sana. Saat mencoba untuk tidur aku teringat masalahku dengan omma tadi.

“Oppa.” Panggilku.

“Hmm.” Jawabnya sambil asik mengotak-atik laptopku.

“Kapan kita kasih tahu Omma dan Appa tentang hubungan kita?” Tanyaku padanya.

“Kenapa?” Dia balik bertanya.

“Hubungan kita sudah hampir 2 tahun. Aku rasa mereka perlu tahu.” Kataku.

“Benar juga. Baiklah, minggu ini aku akan bilang pada mereka.” Katanya yang sukses membuatku terduduk.

“Benarkah?” Tanyaku tak percaya yang diikuti dengan anggukkannya.

“Kalau begitu aku harus segera tidur!” Kataku pada diri sendiri dan mulai tertidur.

Rinjin POV End

Eunhyuk POV

“Hyuk, hyuk!” Terdengar suara manajerku memanggilku.
Aku hanya mengerang sebagai tanda bahwa aku sudah terbangun dari
tidurku.

“Ayo bangun, siang ini kau ada jadwal.” Jelas manajerku.

Mendengar itu aku segera mengumpulkan sebagian nyawaku yang hilang dan segera bersiap-siap. Setelah semua siap, aku pergi ke ruang makan untuk sarapan. Entah ini disebut sarapan atau makan siang karena sekarang sudah menunjukkan jam 10.

Aku hampir saja lupa kalau Rinjin menginap di sini sampai aku melihatnya di ruang makan bersama Kyu.

“Oppa, kau sudah bangun?” Tanyanya sambil memberiku segelas teh.

“Hmm. Bagaimana tidurmu?” Tanyaku sambil mengambilnya.

“Aku hampir tidak bisa tidur.” Katanya.

“Eh? Bagaimana bisa? Kau segera tertidur setelah bertemu kasur.”
Tanyaku tak percaya karena tadi malam dia langsung tertidur tidak lama setelah pembicaraan kami.

“Ya, setelah kau pergi aku terus terbangun.” Jawabnya.

“Ya hyung, dari tadi pagi dia sudah ada di sini dan menyiapkan sarapan untuk kami.” Tambah Kyu.

“Mana yang lain?” Tanyaku pada Kyu.

“Mereka sudah keluar semua tadi, tinggal aku dan kau yang ada di sini.” Jelasnya yang diikuti anggukkanku.

“Rinjin-ah, sepertinya aku tak bisa mengantarmu pulang, siang ini aku ada jadwal.” Kataku pada Rinjin.

“Tidak apa. Aku bisa pulang sendiri kok.” Katanya riang yang membuatku semakin merasa bersalah.

“Biar aku yang antar, bukannya siang ini kau ada ujian?” Tanya Kyu yang aku sendiri tak tau hal itu.

“Tidak apa, masih sempat kok.” Jawabnya.

“Kalau begitu kau diantar Kyu saja. Kyu, aku titip Rinjin ya.” Kataku buru-buru karena manajer hyung sudah memanggilku dari luar.

“Aku berangkat dulu ya.” Pamitku pada Rinjin sambil mengacak-acak rambutnya.

Aku pun segera meninggalkan mereka berdua.

—-

Hari masih sore saat aku menyelesaikan pekerjaanku. Tiba-tiba aku ingat janjiku pada Rinjin untuk bicara pada orang tuanya. Aku rasa aku bisa menemui mereka di cafe hari ini. Aku pun segera meminta izin pada manajerku dan pergi ke café milik keluarga Rinjin. Sesampainya di sana aku bertemu dengan ommanya Rinjin.

“Annyeong haseyo ommonim!” Sapaku saat kami berpapasan.

“Annyeong haseyo. Ah, kau temannya Kyu yang waktu itu bukan?” Tanyanya sambil mengingat-ingat.

“Ne. Lee Hyukjae imnida.”Jawabku sambil memperkenalkan diri lagi.

“Ah, iya Lee Hyukjae. Apa kabarmu?” Tanyanya sambil mengajakku duduk dan memesankan minuman untukku.

“Saya baik. Bagaimana dengan ommonim?” Tanyaku kembali.

“Baik. Panggil saja omma, kalian sudah seperti anakku sendiri.” Pintanya.

“Ne, omma. Kemana aboji dan Rinjin?” Tanyaku yang tak melihat keberadaan mereka.

“Appanya Rinjin masih sibuk di kantor. Rinjin sepertinya tidak akan kesini karena minggu ini dia sudah mulai ujian.” Jelasnya panjang lebar.

“Kalau begitu biar aku yang bantu omma seminggu ini, kebetulan minggu ini aku tidak begitu sibuk.” Aku menawarkan bantuan.

“Eh, benarkan?? Wah, senangnya ada yang menemani. Tidak ada mereka kami sedikit kewalahan.” Katanya padaku.

Aku sengaja menawarkan diri untuk membantu omma Rinjin di café. Jujur saja aku tidak bisa bicarakan masalah hubunganku dengan Rinjin secara langsung, aku ingin mengambil hati ommanya terlebih dahulu.

“Hyukjae-ah, terimakasih atas bantuanmu.” Kata omma Rinjin padaku saat kami menutup café.

“Ne omma, besok aku akan kembali lagi.” Kataku sambil membungkukkan badan dan pamit.

“Hati-hati di jalan.” Teriaknya saat aku mulai masuk mobil dan menjauh.

Sesampainya di kamar aku langsung menghempaskan tubuhku ke kasur. Saat mulai memejamkan mata, ponselku berbunyi. Ternyata itu pesan dari Rinjin.

SMS
Oppa, kau sudah tidur?

Reply
Belum. Kenapa kau belum tidur? Bagaimana ujianmu?

SMS
Aku baru pulang belajar bersama. Lumayan, hehee. Besok aku mau main ke dorm.

Reply
Dasar sombong. Baiklah. Aku juga ingin mengabarkan sesuatu besok.
Setelah berkunjung ke café dan menemui ommanya Rinjin tadi, aku berniat untuk membicarakan hubungan kami pada ommanya besok.

SMS
Apa? Sekarang saja!

Reply
Tidak bisa. Kau harus pastikan dulu kau bisa mengerjakan ujian besok. Sampai jumpa besok. Saranghae.

SMS
Aku pasti bisa. Saranghae.

Hari ini aku tidak ada schedule, jadi pagi ini aku bisa langsung pergi ke café Rinjin. Sesampainya disana aku melihat banyak elf mengunjungi café itu. Sepertinya kemarin mereka menyadari keberadaanku di café itu. Tapi aku rasa tidak masalah, karena anggota yang lain pun melakukan hal ini untuk cafenya. Aku pun segera masuk dan mengganti pakaianku.

“Kau sudah datang?” Tanya ommanya Rinjin saat aku keluar untuk
membantu.

“Iya. Aku baru saja datang.” Jawabku.

“Tidak tahu kenapa, sepertinya kita kedatangan banyak pelanggan. Kau
tidak apa-apa?” Tanyanya sambil melirik banyaknya pelanggan hari ini.

“Tidak apa-apa. Biar aku layani mereka.” Jawabku mantap.

Aku pun menghampiri salah satu meja dan mencoba melayaninya.

“Ada yang bisa dibantu?” Tanyaku ramah.

“Eunhyuk oppa!” Sapanya yang kubalas dengan senyuman.

“Aku pesan menu yang ini dan ini.” Katanya sambil menunjuk beberapa menu.

“Baik. Pesanannya segera diantarkan. Ditunggu ya.” Kataku yang kemudian pergi meninggalkan mereka.

Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi sepertinya beberapa kamera mengarah padaku saat aku melayani pelanggan yang datang. Melihat itu ommanya Rinjin segera menarikku ke dalam.

“Apa kau juga anggota Super Junior?” Tanyanya menyelidik.

“Ne. Saya anggota Super Junior.” Jawabku.

“Ahh, pantas banyak sekali elf yang datang.” Katanya mengerti.

“Kalau begitu kau jadi kasir saja.” Usulnya padaku.

Akhirnya aku bekerja di belakang meja kasir untuk melayani pembayaran hingga café ditutup. Setelah menutup café kami bersih-bersih ruangan terlebih dahulu. Di sela-sela bersih-bersih, omma Rinjin memanggilku.

“Hyukjae-ah, ini minum dulu.” Katanya sambil mengajakku duduk.

“Terima kasih omma.” Jawabku sambil ikut duduk di dekatnya.

“Oh, jadi kamu ini satu grup dengan Kyu. pantas kalian sangat akrab.”
Katanya memulai pembicaraan.

“Tau seperti itu, omma tak izinkan kamu bekerja.” Katanya sedikit menyesal.

“Tidak apa omma, saya senang bisa membantu omma dan yang lain.” Jawabku.

Aku rasa ini saat yang tepat untuk mengatakannya, tapi aku bingung harus mulai dari mana.

“Hyukjae-ah, apa kau tahu kalau sebelumnya Rinjin dan Kyu itu pernah menjalin hubungan?” Tanya omma tiba-tiba.

“Ya, saya tahu.” Jawabku singkat.

“Benarkah? Apa semua member tahu masalah ini?” Tanyanya tidak percaya.

“Ya, semua tahu masalah ini.” Jawabku lagi yang diikuti dengan anggukan dari omma.

“Apa kau mau membantu omma?” Tanya omma padaku.

“Ya? Soal apa?” Tanyaku penasaran.

“Sebenarnya, putusnya hubungan mereka itu karena situasi yang membuat mereka mengambil keputusan seperti itu. Omma rasa mereka masih menyimpan rasa satu sama lain.” Jelasnya.

“Maksud omma?” Tanyaku lagi.

“Ya, sekarang situasinya sudah berubah. Kyu sudah bisa menerima keberadaan Rinjin kembali. Mau kah kau membantu menyatukan mereka kembali?” Pintanya yang sukses membuyarkan pikiranku.

“Ya, kau kan dekat dengan Rinjin dan Kyu, omma rasa kau orang yang tepat untuk menyatukan mereka kembali.” Lanjutnya.

Mendengar itu, aku benar-benar tidak bisa bicara apa-apa. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengiyakan permintaan itu atau justru aku harus menentangnya? Bagaimana jika aku benar-benar melakukannya, apa Rinjin lebih baik bersama dengannya? Bagaimana jika aku menolaknya, apa Rinjin lebih bahagia bersamaku? Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalaku.

“….seperti itu, Bagaimana kau bisa kan? Aku percaya padamu Hyukjae.” Aku tidak mendengar jelas apa yang dikatakannya tapi yang jelas omma mempercayakan semuanya padaku.

Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan hal yang bahkan tak pernah terbayangkan olehku. Aku tidak bisa menyalahkan omma Rinjin, karena dia sama sekali belum tahu hubungan kami.

Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba aku merasa lelah. Aku ingin segera istirahat, berharap itu bisa membantu. Ku buka pintu dorm dan ku letakkan sepatuku di lemari seperti biasa. Terdengar suara seorang yeoja yang tak asing bagiku.

“Kyu! Sakit!” Rengeknya.

“Salah sendiri. Kau ini tidak mengerti matematika, tapi kenapa kau justru mengambil jurusan ini, hah?” Teriak Kyu.

“Tapi aku suka matematika.” Jawabnya.

“Kalau begitu kau harus belajar lebih giat!” Perintahnya sambil menyodorkan buku lain pada yeoja itu.

Rinjin, ya yeoja itu adalah Rinjin. Aku hampir lupa kalau dia akan datang hari ini.

“Oppa, kau sudah pulang?” Teriak Rinjin saat menyadari kedatanganku.

“Eits, kau harus selesaikan ini dulu sebelum bertemu dengan hyungku.”
Kata Kyu sambil menjewer kupingnya.

“Adu dudu duh, sakit Kyu.” Rengeknya lagi.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, untuk sesaat aku bisa melupakan apa yang dari tadi menjadi pikiranku.

“Tenang hyung, percayakan dia padaku.” Kata Kyu padaku.

Dan dalam sekejap Kyu mengembalikan pikiran yang tadi hilang entah kemana kembali menguasai isi otakku.

“Selesaikanlah belajarmu dulu.” Kataku pada Rinjin yang masih berada di tangan Kyu.

Aku kemudian meninggalkan mereka untuk masuk ke kamar.

“Tuh kan, aku bilang juga apa.” Kata Kyu pada Rinjin yang masih bisa ku dengar.

“Oppa~” Rengeknya.

Aku segera menghempaskan badanku ke kasur dan memejamkan mata sejenak untuk mengistirahatkan seluruh tubuh dan pikiranku.

“Hmm, apakah itu berarti kau sudah menyetujui hubungan kami?” Tanyaku padanya.
“Entahlah hyung, dia begitu berharga untukku.” Jawabnya.

Tiba-tiba aku ingat kata-kata Kyu saat di Jepang beberapa waktu lalu.

“Apa itu berarti aku yang harus melepaskannya? Semua menginginkan mereka kembali. Apa aku terlalu egois?” Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya terjun dengan bebas.

“Tidak adakah alasan untukku mempertahankan hubungan ini?” Batinku.

Eunhyuk POV End

Rinjin POV

“Kau tidak boleh bertemu hyung sebelum menyelesaikan soal-soal dariku!” Ancamnya.

“Aah, ayolah Kyu!” Rengekku.

“Besok kau ujian kan? Bagaimana kalau kau tidak bisa?” Tanyanya padaku.

“Bagaimana kalau aku langsung bisa menyelesaikan semua soal ini sekaligus?” Tantangku padanya.

“Eh? Emm… Aku akan memenuhi satu permintaanmu.“ Jawabnya.

“Kau harus mengantarku pulang nanti.” Kataku asal.

Aku juga ingin memberikan pelajaran padanya yang sejak tadi tak henti menyiksaku. Tidak bisakah dia bersikap manis saat mengajariku?

“Hei, kau sendiri yang datang untuk minta diajari, tapi kenapa aku yang harus memulangkanmu?” Protesnya.

“Ya! Katanya kan mau memenuhi permintaanku!” Balasku.

“Baiklah.” Jawabnya pasrah.

Setelah 20 menit mengotak-atik, aku segera menyerahkan hasil kerjaanku pada guru gadungan itu.

“Bagaimana?” Tanyaku saat melihat raut mukanya yang sangat terkejut.

“Wah, hebat sekali perubahanmu.” Jawabnya tak percaya sambil meneliti sekali lagi pekerjaanku.

“Tak ada yang tak bisa aku kerjakan, mengerti??” Kataku sombong.

“Dasar yeoja aneh!” Ejeknya.

“Apa?!” Pekikku.

“Sudah, kau siap2 sana. Aku ingin bertemu Eunhyuk oppa dulu.” Kataku yang segera berlari ke kamar Eunhyuk.

Tok tok tok…

“Oppa, aku masuk ya” Teriakku sebelum membuka pintu.

“Masuklah.” Jawabnya pelan.

“Oppa, kau sudah tidur?” Tanyaku saat melihatnya bangkit dari tidurnya.

“Belum. Kau sudah selasai belajar?” Tanyanya mengajakku duduk di kasurnya.

“Sudah. Dia guru yang menyeramkan.” Bisikku saat duduk di sebelahnya.

“Oppa habis dari mana? Apa oppa baik-baik saja?” Tanyaku saat melihat ada yang berbeda darinya.

“Aku hanya lelah.” Jawabnya sambil mengacak-acak rambutku.

“Apa kau lapar? Biar aku buatkan makanan untukmu.” Kataku sambil bangkit dari dudukku.

Tiba-tiba dia menarik tanganku dan aku pun jatuh ke dalam pelukannya.

Aku sangat kaget hingga hampir memberontak, tapi tidak ada perlawanan darinya. Apa dia terlalu lelah sehingga tak mampu menahanku?

“Biarkan seperti ini. Sebentar saja.” Pintanya tanpa paksaan.

Aku masih dalam pelukkannya, tidak membalas tidak juga memberontak. Aku berharap dengan ini aku bisa mengerti apa yang sedang ia rasakan.

“Saranghae…” Ucapnya tiba-tiba.

Aku mencoba mencerna apa yang baru saja ia katakan. Ini terlalu tiba-tiba.

“Nado.” Kataku akhirnya membalas.

Dia pun melepaskan pelukannya perlahan. Dia kemudian memberikan senyumannya seolah memberi tanda bahwa keadaanya sudah membaik.

“Bagaimana ujianmu?” Tanyanya memulai pembicaraan.

“Hari ini aku bisa mengerjakan hampir semua soal ujian.” Laporku.

“Benarkah? Hebat.” Jawabnya.

“Kenapa hanya begitu? Bukannya oppa mau menyampaikan sesuatu kalau aku bisa mengerjakan ujianku hari ini.?” Tanyaku menagih janjinya.

“Ah, itu…” Katanya terhenti.

“Bukankah aku sudah mengatakannya? Itu tadi untuk memberimu semangat agar kau bisa menyelesaikan ujianmu dengan baik.” Lanjutnya.

Semangat?! Bagaimana bisa kata-kata tadi dijadikan semangat? Bukankah itu terdengar seperti permintaan tolong??

“Benarkah?? Hmm, bagaimana kalau pergi ke taman hiburan setelah ujian selesai?” Usulku.

“Heii, kalau ujiannya selesai untuk apa dikasih semangat?” Tanyanya tidak mengerti.

“Ya, paling tidak aku lebih semangat menyelesaikan ujianku.” Pikirku.

“Ahh, baiklah.” Jawabnya setuju yang langsung diikuti dengan teriakkanku.

“Yasudah, sekarang kau ku antar pulang. Ini sudah malam.” Katanya sambil hendak bersiap-siap.

“Tidak usah. Oppa istirahat saja sekarang, biar Kyu yang mengantarku pulang. Tadi dia kalah taruhan denganku.” Jelasku sambil membaringkan tubuhnya ke kasur dan menutupnya dengan selimut.

“Aku tidak ingin oppa kelelahan dan jatuh sakit.” Kataku padanya yang masih bingung.

“Jaljayo!” Kataku setelah mencium keningnya lembut.

Rinjin POV End

Eunhyuk POV

Hari ini aku kembali ke café untuk membantu omma Rinjin seperti apa yang aku janjikan. Seperti biasa elf masih banyak yang datang untuk sekedar melihatku.

“Wah, kau masih mengundang banyak pelanggan.” Kata omma Rinjin padaku.

“Ah, tidak. Makanan disini juga enak.” Pujiku.

“Kau tahu? Tadi malam Rinjin diantar oleh Kyu.” Katanya senang.

“Ya, tadi malam Rinjin belajar bersama Kyu di dorm kami.” Aduku.

“Benarkah? Wah, perkembangan yang bagus.” Katanya tidak percaya.

Aku tak mampu berkata apa-apa. Rasanya masih sakit membicarakan kedekatan mereka meskipun aku berusaha merelakannya.

“Aku sangat senang melihatnya bahagia. Dia tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di depan kami. Terutama saat ayahnya harus menanggung banyak utang dan kehidupan kami menjadi serba sulit.
Dia bahkan bekerja keras mendirikan café ini agar keuangan kami membaik.” Cerita omma padaku.

“Dia memang selalu terlihat ceria.” Tambahku.

“Ya, tapi dia tidak setegar itu. Dialah yang paling banyak menangis.

Mungkin omma tidak tahu seberapa banyak dia menangis, tapi paling tidak omma ingin melihatnya selalu bahagia. Dan omma tahu, Kyu lah yang bisa memberikan kebahagiaan itu.” Jelasnya padaku.

Aku tidak bisa menyangkal apa yang omma katakan padaku, karena begitulah kenyataannya. Kyu, mungkin memang dia yang bisa memberikan kebahagiaan pada Rinjin. Omma pun menceritakan lebih banyak lagi tentang putrinya padaku. Mungkin hal itulah yang membuatku tetap datang ke café ini meskipun terasa sakit.

Eunhyuk POV End

Rinjin POV

Hari ini adalah hari terakhirku ujian. Eunhyuk oppa berjanji akan membawaku ke taman hiburan. Selesai ujian aku pun segera menghubunginya untuk menagih janjinya.

“Oppa, kau sedang dimana?” Tanyaku.

“Aku sedang di luar, kenapa?” Jawabnya datar.

“Ini hari terakhirku ujian dan aku sudah menyelesaikan ujianku dengan baik.” Jelasku berharap dia ingat dengan janjinya.

“Hari ini aku tidak bisa menjemput. Kau hubungi Kyu dulu untuk menjemputmu.” Jawabnya singkat.

“Eh, tapi hari ini kan…” Kataku terputus saat tahu dia tidak sedang mendengarkanku.

“Kau pesan apa?” Tanyanya pada seseorang.

“Aku pesan…” Jawab seorang yeoja disana

“Rinjin-ah, kau hubungi Kyu dulu ya nanti aku telepon.” Katanya yang
langsung memutuskan teleponku.

“Kyu, Kyu, Kyu terus! Kenapa akhir-akhir ini kau jadi semakin mirip omma, hah?” Rutukku pada telpon yang aku yakin sudah terputus.

Aku memutuskan untuk tetap pergi ke taman hiburan meski tanpa Eunhyuk oppa. Aku sangat butuh hiburan setelah ujian yang cukup menyita waktu dan pikiranku. Aku pun menghabiskan sisa hariku dengan mencoba semua wahana yang ada.

Hari sudah gelap dan taman hiburan semakin sepi. Terlalu banyak berjalan tadi membuat kakiku terasa lelah dan hampir tak bisa digerakkan. Aku memilih beristirahat di salah satu kursi terdekat.

Aku pun tertidur dengan cepat. Ya, aku memang tidak membutuhkan tempat yang nyaman untuk bisa tidur cepat.

Rinjin POV End

Eunhyuk POV

Aku pulang pukul sembilan seperti biasa. Beberapa member masih sibuk
dengan kegiatannya. Kulihat Kyu sedang asik bermain game.

“Kyu, kau sudah pulang? Bagaimana Rinjin?” Tanyaku saat duduk di sebelahnya.

Inilah hal yang pertama kali aku tanyakan saat bertemu dengannya. Aku hanya ingin memastikan semua berjalan lancar, meskipun kadang rasanya sakit mendengar cerita Kyu.

“Rinjin? Aku tidak bertemu dia hari ini.” Jawabnya bingung.

“Apa dia tidak menghubungimu?” Tanyaku lagi dan dia hanya menggeleng.

Tiba-tiba saja aku ingat bahwa hari ini aku berjanji menemaninya ke taman hiburan. Aku segera menghubungi ponselnya, tapi tidak ada jawaban darinya. Aku mengirimkan beberapa pesan padanya, tapi tidak ada balasan darinya.

“Kyu bantu aku mencari Rinjin.” Ajakku tanpa menjelaskan apa yang terjadi.

Aku dan Kyu pergi dengan mobil yang berbeda. Kami pergi ke taman hiburan yang mungkin dikunjunginya. Meskipun taman hiburan itu sudah tutup, tapi aku yakin dia masih berada di dalamnya. Dia pasti kelelahan setelah mencoba seluruh wahana yang ada di taman hiburan ini. Kami pun meminta izin ke petugas untuk memeriksanya. Untuk mempermudah pencarian, aku dan Kyu berpencar. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku dengan seksama. Akhirnya aku menemukannya sedang duduk di salah satu kursi taman tersebut.

“Rinjin!” Panggilku.

Dia kemudian menatapku tak percaya.

“Oppa..” Katanya yang terdengar hampir menangis.

Aku pun menghampirinya dan melihat keadaannya. Dia kemudian memelukku dengan erat. Dia pasti sangat ketakutan berada di tempat seperti ini sendirian.

“Apa yang kau lakukan disini, hah? Kenapa tidak pulang? Bukankah aku menyuruhmu menghubungi Kyu untuk menemanimu? Tapi kenapa kau kesini sendirian?” Aku yang tak ingin terjadi apa-apa padanya hanya bisa melemparkan berbagai pertanyaan padanya.

Dia pun melepaskan pelukannya dan menatapku tajam.

“Kau ini kenapa sih? Kyu, Kyu, Kyu terus… Kenapa selalu dia?” Tanyanya tak mengerti.

“Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu.” Jawabku sedikit mengecilkan suaraku.

“Kenapa harus dia? Kenapa tidak kau saja?” Tanyanya lagi.

“Jika kau ingin memastikan apakah aku baik-baik saja, kenapa harus lewat Kyu? Kenapa tidak kau lakukan saja sendiri?” Tambahnya.

Aku hanya diam tanpa pembelaan. Aku tahu, harusnya aku yang melindunginya bukan yang lain. Tapi aku terpaksa harus melakukannya.

“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana, tapi tidak bisakah kau menyisihkan sedikit waktumu untukku?” Lanjutnya dengan sedikit terisak.

“Setiap kali aku ingin menemuimu, pergi bersamamu, kau malah menyuruhku untuk pergi dengan Kyu. Bahkan kita sudah merencanakan ini seminggu yang lalu, tidak bisakah kau meluangkan waktumu sedikit?” Kali ini aku dapat melihat air matanya turun mengikuti lekuk
wajahnya.

Ingin sekali rasanya menghapus air matanya.

“Yang ingin ku temui itu bukan siapa pun, tapi kau. Tapi kenapa kau seperti menghindariku?” kata-katanya terhenti seolah sudah mendapat jawaban.

“Kau tidak sedang menghindariku, kan?” Tanyanya yang membuatku kaget.
Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah berharap bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaanya.

“Kau tidak sedang berhubungan dengan yeoja lain, bukan?” Tanyanya sambil menatapku.

“Tidak!” Batinku.

“Aku tak bisa melihat yeoja lain selain dirimu, kau tahu?” Kata-kata itu sangat ingin keluar saat itu tapi aku memilih diam tanpa menjelaskan apa pun padanya.

“Ahh, aku rasa aku sudah tahu alasannya. Rumor kau sering keluar dari restoran dan suara yeoja yang ku dengar hari ini. Ini pasti ada hunbungannya dengan itu semua.” Katanya menyimpulkan semuanya.

“Baiklah. Aku rasa tidak ada gunanya lagi mempertahankan hubungan ini.” Katanya seraya pergi dengan sedikit terpincang.

“Rinjin-ah” Panggilku yang tidak diindahkannya.

Apa yang harus aku lakukan? Apa dia benar-benar memutuskan hubungan kami? Ingin rasanya menghentikan langkahnya dan menyelesaikan sandiwara ini. Tapi, untuk itulah aku melakukan semua ini.

“Rinjin-ah, kau kenapa?” Tanya Kyu menghampirinya.

“Kyu, antarkan aku pulang.” Katanya tanpa menghirukan pertanyaanya.

Kyu melemparkan pandangan bingung ke arahku. Dia lalu membantu memapah tubuh Rinjin dan membawanya ke mobil. Melihat itu rasanya tubuhku ingin bergerak menggantikan Kyu memapahnya, tapi kuurungkan niatku.

Aku pulang dengan sangat berantakan. Aku kemudian masuk kamar mandi untuk menenangkan diri. Aku hanya memandang diriku di kaca. Memandang diriku yang membuat Rinjin menangis. Sebegitu pengecutnya kah aku membohongi perasaan sendiri?

“ARGH!!” Sebuah pukulan mendarat ke diriku yang lain yang berada di dalam kaca.

Prang!! Kaca di hadapanku pun pecah sedang darah keluar menyelimuti tangan kananku. Meskipun darah terus keluar, tapi aku tidak sedikit pun merasa sakit. Apa aku sudah benar-benar kehilangan perasaan?

“Eunhyuk-ah, ada apa?” Teriak Donghae dari luar.

Aku hanya terduduk diam dan meratapi semua yang terjadi.

Eunhyuk POV End

Kyu POV

Aku tak tahu apa yang terjadi tadi malam. Dia tertidur dan tak mau bicara selama perjalanan. Aku tahu dia hanya pura-pura tertidur saat itu. Hari ini aku akan ke rumahnya karena aku yakin dia pasti membutuhkan seseorang.

Ting tong.. ting tong..

“Hai Kyu.” Sapanya saat melihatku di depan pintu .

“Bagaimana tidurmu?” Tanyaku saat mengikutinya masuk ke dalam rumahnya.

“Begitulah. Bagaimana denganmu? Tanyanya mencoba terlihat seperti biasa.

“Aku mengkhawatirkanmu.” Jawabku.

“Bagaimana kakimu?” Tanyaku lagi.

“Lebih baik. Maaf, selalu merepotkanmu.” Katanya menyesal.

“Mau minum apa?” Lanjutku.

“Apa saja. Hari ini kau mau kemana?” Tanyaku.

“Aku mau ke café membantu omma.” Jawabnya sambil membuatkan minuman untukku.

“Kalau begitu biar aku yang antar.” Aku menawarkan diri.

“Aku siap-siap dulu.” Katanya sambil memberikan minumanku lalu pergi bersiap-siap.

Sesampainya di café di merubah raut mukanya dengan cepat. Dia, benar-benar pintar menyembunyikan perasaannya.

“Omma, kenapa tidak membangunkanku?” Rengeknya pada omma.

“Kau terlihat lelah, sayang. Jadi omma tidak tega.” Jawab omma sambil menelungkupkan tangannya ke pipinya.

“Kyu, kau juga datang?” Tanya omma beralih padaku.

“Ne omma, hari ini aku akan ikut membantu kalian.” Jawabku yang disambut dengan senyum oleh omma.

“Wah, pasti hari ini ramai. Karena kedua anggota Suju ada di sini.” Ucap omma senang.

“Dua?” Tanyaku bingung.

“Oh iya, kemana dia? Apa dia tidak bersama kalian?”

“Dia? Dia siapa?” Tanya Rinjin bingung.

“Itu, Lee Hyukjae.” Jawab omma yang semakin membuatku bingung.

“Jangan sebut nama dia di depanku!” Jawab Rinjin Ketus.

“Tunggu, tadi omma bilang apa? Dia pernah datang ke sini?” Tanya Rinjin tidak percaya.

“Ya, seminggu ini dia rutin kesini.” Jawab omma.

“Untuk apa dia ke sini?” Tanya Rinjin bingung.

“Dia membantu omma di café selama kau dan appa tidak datang.” Jelas omma.

“Jadi seminggu ini, setiap hari dia pergi kesini?” Tanyaku tidak percaya.

“Ya, apa dia tidak bilang?” Omma jadi semakin bingung.

“Lalu apa yang kalian bicarakan? Ah tidak, apa yang omma katakan
padanya?” Tanya Rinjin.

“Tidak ada, kami hanya berbincang-bincang biasa.” Jawab omma.

“Omma.” Rinjin tahu ommanya masih menyembunyikan sesuatu.

“Omma hanya cerita tentang mu waktu kecil.” Jelasnya lagi.

“Hanya itu?” Tanya Rinjin memastikan lagi.

“Hmm.. Sebenarnya omma juga memintanya membantu mengembalikan hubungan kalian lagi” Tambahnya.

“Apa?!” Teriak kami bersamaan

“Jadi semua itu karena permintaan omma?” Tanyaku pada omma.

“Omma…” Rinjin hampir saja kehilangan akalnya.

Wajahnya berubah kecewa, entah pada dirinya atau pada apa yang terjadi. Tanpa berkata apa-apa lagi dia kemudian keluar dan memanggil taksi. Aku tahu betul kemana dia akan pergi. Aku mengurungkan niatku untuk mengejarnya atau menghentikannya. Ku biarkan dia menjemput kabahagiannya sendiri.

“Mungkin sudah waktunya aku merelakanmu, Rinjin-ah.” Aku menghela nafas panjang dan berusaha menenangkan diriku sendiri.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya omma tak mengerti.

“Omma, jika aku tidak bersama Rinjin lagi omma masih tetap menyayangiku bukan?” Aku berbalik bertanya padanya.

“Tentu saja. Kau itu juga anak omma.” Jawabnya sambil merengkuhku ke dalam pelukannya.

Kyu POV End

Rinjin POV

Aku tak habis pikir kenapa omma bisa bilang itu padanya. Aku harus segera menemui Eunhyuk oppa. Aku merasa bersalah padanya.

“Dimana Eunhyuk oppa?” Tanpa basa-basi aku segera menanyakan keberadaan Eunhyuk oppa pada Donghae oppa saat dia membuka pintu dorm.

“Dia di lantai atas bersama Leeteuk hyung” Jawab Donghae tersenyum ramah.

Aku segera menuju lantai atas dimana Eunhyuk oppa berada. Sebelum sampai ke lantai atas aku sempat mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Aku masih sangat mencintainya, tapi mungkin aku harus merelakannya.” Kata seseorang yang aku yakin itu Eunhyuk oppa.

“Oppa!” Panggilku yang membuat kedua orang yang sedang berbicara itu menoleh kepadaku.

“Rinjin?” Jawabnya tak percaya.

“Dasar bodoh, kau bodoh, kau sangat bodoh!” Aku berlari ke arahnya dan memukul-mukul dadanya.

“Uhuk! Hentikan, ini sakit Rinjin-ah” Katanya pelan sambil menangkap
kedua tanganku agar berhenti memukulnya.

“Kenapa kau tidak bilang padaku? Kenapa kau mengikuti omomongan omma? Kenapa kau tidak bilang padanya bahwa kau akan menjagaku?” Aku melemparkan berbagai pertanyaan padanya.

Dia masih memegangi tanganku yang masih ingin memukulnya karena kebodohannya itu.

“Omma lebih menyukai kyu dari pada aku. Mungkin benar, kau akan lebih bahagia dengannya.” Dia mencoba mengutarakan pendapatnya.

Aku mengangkat kepalaku agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku melihat ketulusan di matanya.

“Bodoh! Yang menjalani itu aku, bukan omma, bukan siapa pun!” Kataku masih tidak mengerti dengan jalan pikirannya

“Tapi..” Tiba-tiba tanganku bergerak menarik kepalanya, dengan
sedikit menjinjit aku membungkam mulutnya dengan mulutku.

Aku segera menarik wajahku dan menatapnya lagi.

“Aku mencintaimu.” Aku harap ini cukup membuktikan bahwa dialah yang
aku pilih.

Dia terlihat kaget dengan apa yang aku perbuat. Aku hanya bisa menunduk malu saat menyadari perbuatanku.

“Tanganmu, ada apa dengan tanganmu?” Kataku tiba-tiba beralih pada luka di tangannya.

“Ini, hanya luka kecil.” Jawabnya.

“Dia menghantam kaca di kamar mandi.” Sambung Leeteuk oppa yang pasti melihat seluruh kejadian tadi dengan jelas.

Aku kembali menundukkan kepalaku karena malu. Aku lupa Leeteuk oppa juga ada di sini.

“Benarkan? Apa masih sakit?” Tanyaku padanya.

“Sudahlah, dari pada memikirkan ini. Ayo kita temui omma mu. Aku akan mengatakan bahawa aku akan membahagiakanmu.” Katanya sambil menarik tanganku.

Aku masih belum bergerak karena tidak tahu harus bagaimana terhadap Leeteuk oppa.

“Ah, aku hampir lupa, hyung aku pergi dulu ya” Katanya saat melihatku melirik Leeteuk oppa.

“Pergilah, jangan kembali tanpa restu dari omma dan oppanya Rinjin! Arra?” Jawab Leeteuk oppa menyetujui.

“Terimakasih hyung! Aku mencintaimu!” Teriaknya sambil membawaku lari.

Aku menghentikan langkahku tiba-tiba yang membuatnya ikut berhenti.

“Ada apa lagi?” Tanyanya tak mengerti.

“Kau tidak mengucapkan itu padaku.” Kataku sedikit kecewa.
Dia tersenyum mendengar kata-kataku.

“Ah benar.”

Tiba-tiba dia mengangkat tubuhku yang membuatku mengalungkan
tanganku ke lehernya.

“Aku mencintaimu, saangat mencintaimu!” Katanya sambil kembali berlari.

Rinjin POV End

—END—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: