Resensi Film La Tahzan

6 Nov

La Tahzan

Produser          : Frederica

Sutradara        : Danial Rifki

Genre

Pemain            :Atiqah Hasiholan, Ario Bayu, Jeo Taslim.

Harga Tiket     : Rp 30.000

Sinopsis

            Viona (Atiqah Hasiholan) berteman baik dengan Hasan (Aryo Bayu). Meskipun hanya berteman, mereka menyimpan perasaan satu sama lain. Viona sangat tertarik dengan budaya Jepang. Dia bercita-cita untuk pergi ke Jepang dan tinggal di sana. Dia mengikuti sebuah program yang bisa membawanya ke tempat impiannya tersebut.

            Hasan pun tau akan impian Viona. Dan diam-diam hasan juga berencana untuk bekerja di Jepang. Dia sengaja untuk tidak memberitahu Viona mengenai kepergiannya. Karena di Jepang dia akan bekerja sebagai pekerja ilegal. Hal itu terpaksa dilakukan karena bengkelnya di Indonesia sedang mengalami kesulitan dana.

            Akhirnya Viona berhasil mendarat di Jepang dan tinggal bersama sahabatnya. Dia mencari kerja untuk menghidupi kehidupannya di Jepang. Sambil bekerja, ia juga mencari keberadaan Hasan yang akhirnya ia ketahui juga berada di Jepang.

            Dalam pencariannya, dia dibantu oleh seseorang berketurunan Jepang-Indonesia yang tertarik padanya. Akhirnya Viona pun menemukan Hasan. Namun saat itu orang keturunan Jepang-Indonesia yang diperan kan oleh Joe Taslim ini menyatakan ketertarikannya dan ingin melamarnya.

            Disini terlihat sedikit konflik karena adanya perbedaan agama antara Viona dengan orang keturunan Jepang-Indonesia itu. Sampai akhirnya sebelum orang keturunan Jepang-Indonesia itu melangsungkan pemindahan agama, dia menyadari bahwa dia salah. Dia tidak seharusnya pindah agama hanya karena ingin menikah. Sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah.

             Viona pun akhirnya kembali kepada Hasan. Dan mereka pun kembali ke Indonesia.

Kelebihan

            Cerita dalam film ini sangat ringan, sehingga mudah dicerna oleh penonton. Akting dari pemainnya juga baik.

Kekurangan

            Konflik yang disugukan tidak terlalu terlihat sehingga cerita yang disugukan terkesan kurang menarik.

Penilaian

            Ceritanya terlalu sederhana untuk dijadikan Sebuah Film.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: